Conflict in Fiction

pict TLT4 560

Saat saya akan menulis novel, konflik adalah hal yang terpikir pertama. Yah, terkadang, karakter muncul terlebih dahulu. Sejujurnya, saya bukan tipe penulis yang senang menampilkan konflik besar dalam novel-novel saya. Sepertinya, saya lebih suka menceritakan konflik internal, sesuatu yang sebenarnya berasal dari kegelisahan saya.

Tetapi, marilah kita bahas beberapa tipe konflik yang bisa ditulis dalam novel. Sebelum memulai, saya ingin mengungkapkan hal ini. Ini pemikiran saya.

Penulis tidak mengarang konflik. Dia menganalisis, mengamati variabel-variabel, lalu merumuskan kesimpulan. Seperti pengamat. Intinya, konflik bukan sesuatu yang diada-adakan. Konflik muncul dengan sendirinya. Apa yang membuatnya muncul? Itu yang akan kita bahas.

Nah. Konflik, bagi saya, adalah ketidakselarasan antara dua hal atau lebih. Karakter, kepentingan, elemen-elemen eksternal, elemen-elemen internal, situasi. Hal-hal yang tadi saya sebut variabel.

Karakter melawan karakter paling umum diceritakan. Kebaikan melawan kejahatan adalah rumus kesukaan penulis. Harry Potter melawan Voldemort. Frodo melawan Sauron. Cinderella melawan ibu tirinya. Banyak. Tetapi, sesungguhnya tipe konflik ini perlu dipahami baik-baik agar bisa digali lebih dalam.

Apabila dua karakter bertemu, sifat mereka akan menentukan interaksi yang terjadi. Tidak selalu muncul konflik. Karena itu, penulis harus pintar-pintar mempertemukan karakter-karakternya. Dan, apabila muncul konflik, bentuknya tidak selalu sama. Semua tergantung sifat dua karakter tersebut.

Contoh. Dalam Interlude, Kai–pemuda yang tidak pernah serius dalam hubungan dan senang mempermainkan perempuan–tertarik kepada Hanna–gadis yang punya trauma dan takut kepada lelaki. Pastinya interaksi mereka akan berbeda apabila Kai pemuda baik-baik atau, sebaliknya, Hanna gadis yang sudah sangat berpengalaman dengan lelaki. Ceritanya tidak mungkin sama, bukan?

Karakter melawan karakter ini bisa digali lebih dalam. Manusia kompleks. Setiap individu punya kepentingan; niat, ambisi, motif. Punya kepercayaan pula, moral, nilai-nilai yang dia pegang teguh. Perbedaan kepentingan bisa memunculkan konflik.

Dalam The Godfather, Vito Corleone–seorang kepala keluarga mafia di Amerika–menolak diajak berbisnis narkotika oleh kepala keluarga mafia lain. Dia juga menolak berbagi pengaruh di dunia hukum. Jadi, tidak heran apabila kemudian di cerita Vito Corleone tiba-tiba ditembak di pinggir jalan. Kepala keluarga mafia lain menganggapnya halangan. Bagaimanapun, dia punya kepentingan: bisnis, sementara Vito Corleone punya nilai.

Tetapi, karakter kita tidak melulu melawan individu lain. Dia bisa saja mengalami konflik dengan kelompok atau bahkan masyarakat. Manusia sensitif terhadap perbedaan dan perubahan. Kehadiran individu baru dalam kelompok bisa meresahkan apabila dia mengacaukan standar atau tatanan, atau mengancam stabilitas. Sebaliknya, individu yang terasing dalam suatu kelompok bisa pula merasa tertekan,

Andrea The Devil Wears Prada, misalnya. Dia jurnalis muda yang terpaksa bekerja di kantor redaksi majalah mode kelas atas. Kita sama-sama tahu apa yang terjadi. Sementara itu, dalam Philadelphia, seorang pengacara andal dipecat karena orientasi seksualnya dianggap menyimpang.

Bagaimana dengan karakter melawan alam? Ini konflik klasik. Sejak lama, manusia harus menghadapi tantangan alam. Tetapi, hal yang usang pun bisa menjadi segar apabila penulis kreatif. Saya menyukai Life of Pi. Itu kisah karakter melawan alam yang asyik sekali dinikmati. Dramatis, tetapi juga lucu dan menentramkan. Seorang pemuda India terombang-ambing di laut bersama seekor harimau bengal setelah kapal mereka karam. Atau, Blindness. Tiba-tiba, dunia diserang wabah kebutaan. Unik!

Semua yang saya sebutkan di atas melibatkan elemen-elemen eksternal. Konfilk yang melibatkan elemen-elemen internal tidak kalah menarik diceritakan. Tanpa ada gangguan karakter lain, alam, atau masyarakat, seringkali manusia sudah cukup sibuk untuk bergelut dengan pikiran atau kelemahannya. Ini berhubungan dengan kepercayaan, moral, jalan hidup, dan hasrat. Bagi karakter yang memiliki konflik internal, tidak ada keputusan yang mudah.

Rebecca Bloomwood Confession of A Shopaholic tidak bisa mengendalikan hasrat belanjanya. Dia bahkan tidak bisa berhenti. Padahal, utangnya menumpuk. Mahoni Memori memiliki keraguan terhadap hubungan lelaki-perempuan. Dia tidak percaya bahwa cinta bisa bertahan melawan waktu. Mereka dua contoh dari banyak konflik internal yang ada.

Konflik penting dalam fiksi. Alasannya? Sederhana. Tanpa konflik, tidak ada cerita, tidak ada plot. Konflik menimbulkan ketegangan. Dia daya tarik yang akan membuat pembaca duduk lama di sofa menikmati lembar demi lembar novel. Konflik yang kuat menempatkan karakternya dalam situasi yang menentukan dan memengaruhi hidup. Penulis dinilai berhasil apabila bisa menyedot pembaca masuk ke dalam konflik karakter utamanya.

Nah. Apa kamu siap memilih konflik yang akan diceritakan dalam novelmu?

kiss,
W

Advertisements

One thought on “Conflict in Fiction

  1. Sebagai pemula, konflik jadi hal yang cukup kutakuti dalam memulai sebuah tulisan, apalagi untuk ditulis menjadi sebuah novel. Rasa takut kalau konflik yang ‘kuciptakan’ tidak berhasi menarik minat pembaca.
    Tapi terima kasih untuk pencerahananya..

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s