I Yam What I Yam

 

IMG_20140923_083834_editPernah seorang penulis pemula bertanya kepada saya, “Buku seperti apa yang sedang laris saat ini? Apa trennya?”

Saya menjawab, “Novel bernuansa Korea, mungkin. Tapi, yang paling laris dari masa ke masa–menurut saya–adalah novel-novel semi biografi yang inspiratif seperti Laskar Pelangi dan Negeri Lima Menara. Itu trennya.” Saya juga bertanya balik, “Kenapa, memangnya?”

Penulis pemula itu mengaku, dia berniat menulis novel yang senada dengan novel-novel laris tersebut.

Saya pikir, oke, silakan saja. Siapa pun pasti meninginkan karyanya laku di pasaran. Siapa pun mau sesuatu yang ditulisnya berbulan-bulan dengan susah payah disukai banyak pembaca. Tetapi, secara pribadi, saya punya beberapa alasan untuk tidak menulis berdasarkan tren.

Pertama, tren selalu berubah. Tema cerita yang disukai pembaca saat ini tidak sama dengan tema cerita yang disukai pembaca satu-dua tahun ke depan. Bisa bayangkan apabila kita menulis mengikuti tren yang tidak pernah tetap itu? Melelahkan. Taruhan, kita pasti ngos-ngosan. Dan, jika sudah begitu, kita akan mulai benci menulis. Menulis akan menjadi beban dan tidak lagi menyenangkan.

Kedua, menulis berdasarkan tren tidak menjamin novel kita akan laris. Apa pernah ada Ahmad Fuadi kedua? Negeri Lima Menara hanya satu-satunya. Seringkali, novel-novel yang berusaha mengikuti jejaknya justru tertatih-tatih–bahkan tertinggal jauh–di belakang.

Ketiga, saat kita menjadikan tren sebagai rujukan menulis, kita kehilangan sisi eksplorasi. Karya-karya yang mengekor novel-novel laris sesungguhnya sedang menciptakan homogenitas bersama-sama. Semua karya akan menjadi serupa, tidak lagi personal, seperti produk pabrik. Dan, penulisnya tidak berbeda dari buruh seni.

Padahal, karya tulis sama dengan karya seni. Ada karakter individu di dalamnya, ada ruh yang menjadikan dia identik, unik, orisinal. Dan, ingat ini, karya yang bertahan lama di toko maupun di benak dan hati pembaca adalah karya yang orisinal.

Jadi, mari kita sepakati bersama, berhenti menulis cerita yang kita kira akan disukai banyak orang, atau cerita yang sedang laris di pasaran.

Sekarang, pertanyaannya: kalau begitu, apa yang harus kita tulis?

Begini. Salah satu hal terpenting dalam menulis adalah menjadi diri sendiri. Jujur. Itu kuncinya. Tidak perlu memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang sama sekali bukan kita. Jangan berpura-pura. Menulis semata-mata adalah ekspresi diri.

Mungkin tidak banyak yang sadar, dalam diri kita, ada banyak bibit ide yang berpotensi untuk diolah menjadi kisah menarik. Setiap penulis berbeda, spesial. Tema cerita boleh kuno–ayolah, tidak ada tema yang benar-benar baru. Lokasi cerita bisa jadi tidak asing. Tetapi, cara kita memandang tema atau lokasi itu, itulah yang akan membuat ide kita segar. Bagaimana pun, sudah tugas kita–para penulis–untuk menjadikan dunia ini kembali baru di mata pembaca.

Saya beri contoh sederhana. Jika saya menyebut Paris, apa yang kerap terbayang di benak? Romantis? Pastri? Mode? Glamor? Woody Allen punya pendapat lain. Bagi dia, merujuk kata-katanya lewat Midnight in Paris, Paris paling cantik saat hujan. Dan, Paris paling menakjubkan pada tahun dua puluhan, yakni kala seniman-seniman dan penulis-penulis terbaik sepanjang masa–versi dia–berkumpul di tempat itu (Hemingway, Fitzgerald, Picasso, Dali, dan lain-lain). Menarik.

Mulailah mengenali diri kita sendiri secara lebih baik. Cari tahu ini: apa yang kita suka? Apa yang menyebabkan kita bergairah–dalam artian baik? Apa yang membuat kita berapi-api saat membicarakannya? Itulah yang kita tulis.

Saya pencinta Jepang, maka menulis Montase–novel keempat saya yang idenya berasal dari filosofi sakura. Saya tertarik pada film dokumenter, maka menyisipkannya dalam cerita. Saya menyukai lelaki genius yang menyebalkan, maka lahir Samuel Hardi. Sesederhana itu.

Pedoman ‘tulislah apa yang kita tahu’ salah. Yang benar, ‘tulislah apa yang kita suka’. Jika kita menggunakan hal-hal favorit–hobi, aktivitas, sesuatu yang kita miliki, apa saja–dalam karya, kita akan bersemangat mengerjakannya. Kita akan selalu diganggu perasaan tidak sabar. Kita ingin cepat-cepat menuliskannya, agar cerita itu bisa segera dibaca oleh orang lain.

Oke, terkadang kita memiliki kekhawatiran. Kita takut hal yang kita sukai terlalu aneh bagi pembaca, atau terlalu membosankan, lantas kita takut pembaca tidak akan menyukai hal itu juga. Sekali lagi, kita tidak menulis untuk disukai pembaca. Kita menulis untuk mengekspresikan diri kita.

Sesuatu yang kita suka bukan satu-satunya yang bisa ditulis. Sebagai manusia, kita memiliki rahasia. Banyak rahasia. Mari mengaku saja. Masing-masing kita menyimpan harapan, impian. Kita menyembunyikan ketakutan, penyesalan, yang barangkali tidak pernah diketahui orang lain.

Kita bisa menuliskan itu. Jika kita cukup berani. Tetapi, kita harus berani. Writing is an act of courage. Untuk bisa mendapatkan ide dan menulis dengan baik, kita harus mengambil risiko membuka diri kepada pembaca.

Saya pernah melakukannya. Dalam Memori, saya menceritakan salah satu ketakutan terbesar saya: bahwa tidak ada hubungan antara perempuan dan lelaki yang bisa berlangsung selamanya. Bahwa, cepat atau lambat, perasaan yang mereka miliki akan terkikis dan yang tersisa kemudian hanya rasa benci. Di akhir kisah, saya membisikkan harapan saya: bahwa itu mungkin. Bahwa, hubungan antara perempuan dan lelaki bisa berlangsung selamanya.

Jangan salah paham, saya tidak curhat lewat novel. Kisah Mahoni bukan kisah saya. Saya hanya menjadikan ketakutan kami sama.

Dalam London pun demikian. Lewat cerita rekaan, saya membagikan hal yang saya percayai: konon, hujan turun membawa serta malaikat surga. Saat hujan turun, keajaiban terjadi. Cinta akan datang kepada setiap orang dengan cara yang tidak disangka-sangka, pada waktu yang juga tidak terduga.

Semua itu personal. Dan, pembaca menyukai sesuatu yang personal. Seakan-akan, lewat novel, kita berbicara dari hati ke hati dengan pembaca kita. Itu akan meninggalkan kesan dan karya kita akan tertanam kuat di hati pembaca.

Kita tidak bisa menyenangkan semua pembaca. Itu mustahil. Yang bisa kita lakukan adalah jujur dan pembaca yang menerima kita apa adanya akan berkumpul dengan sendirinya. Menulis itu seperti mencari jodoh. Kita tidak membuat pembaca menyukai hal yang kita sukai lewat karya. Kita mencari pembaca yang menyukai hal yang sama dengan kita lewat karya.

Dan, percayalah, Tuhan telah menciptakan jodoh pembaca bagi setiap penulis.

Jadi, seperti kata Popeye, “I Yam What I Yam.”

kiss,
W

Advertisements

4 thoughts on “I Yam What I Yam

  1. Benar sekali kak Windry. Disini posisi aku sebagai pembaca pun merasa cocok2an sama penulis dan tema yg ditulisnya. Karena, mau se-bestseller apapun karyanya kalo ga sesuai selera, ya berarti bukan jodohku. Nggak akan dilirik pangsa pembaca yg ini nih.. hehe. Ya tapi dia jadi jodoh orang lain juga. “Setiap penulis punya jodoh pembacanya.”

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s