Ubud Writers & Readers Festival 2014: Honesty

uwrf2

Begitu mendapat kabar akan ke Ubud, saya segera main ke situs Ubud Writers & Readers Festival dan memeriksa daftar acara. Saya tidak terlalu tertarik mengikuti bengkel, jujur saja. Bukan berarti saya menganggap diri sudah mahir dalam menulis dan merasa tidak butuh belajar lagi. Selamanya, kita belajar. Tetapi, pada saat ini, saya lebih ingin mengikuti diskusi-diskusi yang membangkitkan inspirasi. Pada saat ini, itu yang saya butuhkan.

Ada banyak diskusi yang saya tandai pada 2 Oktober. “Myths of Our Making”, “Panglish”, “Ethics, People, Place”, dan program spesial “Made & Remade in Japan”. Sayangnya, saya hanya bisa mengikuti acara yang terakhir.

Kami–saya dan teman-teman Gagasmedia–baru tiba di Ubud pukul tiga sore. Setelah mempelajari medan dan jalan-jalan kota, kami ke Taman Baca di Jalan Raya Sanggingan yang dijadikan pusat informasi UWRF. Sial, loket sudah tutup. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk mengintip acara-acara bebas biaya masuk yang kebanyakan memang diselenggarakan setelah pukul empat sore.

Dari Taman Baca, kami ke sebuah kafe baru bernama Room 4 Dessert untuk mengikuti peluncuran sebuah buku resep memasak, Myanmar: Cuisine, Culture,& Customs. Ada yang seru di sini.

Bagian Pertama: Sedikit Cerita Tentang Biopiracy

Saat kami memasuki Room 4 Dessert, acara belum dimulai. Kafe itu temaram. Langit-langitnya tinggi dan dicat corak tenda kulit. Dinding-dindingnya penuh foto. Di ujung, ada meja bar. Sejumlah bahan makanan (terutama kacang-kacangan) ditata di sana. Di tengah-tengah, ada meja lain. Buku-buku memasak dijajarkan. Sofa tersebar di sisi-sisi dan di sudut-sudut.

myanmar cuisine2
aneka bahan di bar

Mohana Rosie Gill, sang penulis, lahir di Malaysia tetapi menetap lama di Myanmar. Lewat bukunya, dia mengekspresikan budaya masyarakat dan kelezatan masakan Myanmar, negara yang bertahun-tahun terisolasi dari dunia luar karena kekangan pemerintah. Dia menyebut Myanmar sebagai negara yang hangat walau begitu. Orang-orang Myanmar paling ramah di dunia. Masakan di sana mengadaptasi karakter masakan dari negara-negara tetangga: India, Tiongkok, dan Thailand.

Peluncuran buku disahkan oleh Bondan Winarno yang datang ke Ubud untuk meluncurkan bukunya juga. Di akhir peluncuran, Mohana membuatkan kami salad teh. Menurut Mohana, hanya orang Myanmar yang memakan dauh teh. Salad ini dibuat dari acar daun teh, bawang putih, beberapa jenis kacang, wijen, dan limau. Rasanya sangat tajam. Kami juga disuguhi dua makanan penutup oleh Room 4 Dessert: mousse dan kue kelapa.

myanmar cuisine
salad teh

Tetapi, lucunya. Bukan Mohana dan bukunya yang menginspirasi saya dalam acara ini. Bukan pula dua makanan penutup suguhan Room 4 Dessert.

Dalam acara ini, saya mengobrol dengan aktivis lingkungan hidup asal Australia. Pada awalnya, dia menegur saya untuk memberikan beberapa kartu pos bergambar pisang dan bertuliskan “stop biopiracy”. Kami sempat membicarakan narkotika dan pelanggaran hukum di Indonesia sebelum saya memintanya menjelaskan tentang biopiracy.

Sebuah perusahaan di Amerika sedang menciptakan organisme baru atas donasi Bill Gates, dibantu oleh lembaga penelitian universitas. Tujuannya, tentu saja, adalah bisnis. Organisme yang telah berhasil mereka buat adalah kacang kedelai. Pastinya, kacang kedelai jenis baru. Dan, telah dijual luas ke masyarakat. Saat ini, mereka sedang berusaha menciptakan pisang jenis baru.

Biopiracy merusak lingkungan hidup dan mengancam ekonomi rakyat. Perusahaan tersebut tidak memakai tenaga manusia. Hanya ada lahan luas di Afrika yang ditanami bibit kacang kedelai dan pesawat yang menyirami lahan itu dengan cairan kimia khusus. Cairan kimia ini membantu kacang kedelai jenis baru buatan mereka, tetapi mematikan tanaman-tanaman lain. Pembukaan lahan itu sendiri merusak hutan. Saat ini, percayalah, kehilangan hutan adalah tragedi besar manusia.

Mengerikan, ya? Mau tidak mau, saya bertanya-tanya bagaimana petani kecil bisa melawan industri ini? Rasanya, petani kecil tidak akan punya kesempatan. Jadi, cepat atau lambat, perusahaan tersebut akan mendominasi suplai kacang kedelai. Kalau sudah begitu, mereka bisa memainkan harga sesukanya.

Demi masa depan yang lebih baik bagi lingkungan hidup, petani kecil, dan manusia; saya setuju dengan teman baru saya. Stop biopiracy! Untuk mendapatkan sesuatu, selalu ada yang harus diberikan (atau lebih tepat kalau disebut: dikorbankan). Pertanyaannya: apakah sesuatu itu sebanding dengan apa yang dikorbankan?

Saya keluar dari Room 4 Dessert dengan pertanyaan itu. Langit Ubud hampir gelap. Hanya tersisa sedikit semburat jingga di batas.

Bagian Kedua: Sushi, Jazz, dan Kejujuran

Saya mengikuti program spesial “Made & Remade in Japan” sendiri. Menyesuaikan dengan tema, diskusi yang disambi makan malam ini diadakan di restoran Jepang Ryoshi. Hore, pikir saya. Buku dan sushi jadi satu. Asyik betul! Yang tidak asyik adalah saya datang tanpa teman. Meja saya sepi sementara meja-meja lain ramai.

Tetapi, okelah. Mari kita membahas apa yang dibahas dalam acara ini. Sebelum itu, saya ingin menyebut Tropical Transit dan Chika Asamato, grup musik jazz beraliran bossanova dan seorang pemain saxophone yang menghangatkan suasana Ryoshi. Saya sedikit terhibur dan jadi tidak terlalu kesepian, sedikit teringat kepada Second Day Charm pula.

Nah, sosok yang dihadirkan kemudian adalah Minae Mizumura–salah satu penulis dan kritikus ternama Jepang–dan Keibo Oiwa, ahli antropologi dan budaya, sineas, penerjemah, aktivis lingkungan hidup, juga pengajar. Mereka dua tamu pertama UWRF yang berasal dari Jepang.

Walau mereka berbeda profesi, Minae Mizumura dan Keibo Oiwa memiliki satu kesamaan. Minae Mizumura lahir di Jepang. Pada usia dua belas tahun, dia dan keluarganya pergi ke New York dan menetap di sana. Mereka warga asia pertama Long Island. Lalu, dia menikah dan kembali ke Jepang. Keibo Oiwa juga lahir di Jepang. Pada usia dua puluhan, dia merasa Jepang bukan tempatnya. Maka, dia pergi ke Amerika Utara dan tinggal di sana selama enam belas tahun sebelum kembali ke Jepang. Both of them were made and remade in Japan. Dan, keduanya kecewa kepada negeri asal mereka saat kembali.

Selama tinggal di New York, Minae Mizumura mengenal negerinya lewat karya-karya sastra Jepang tahun dua puluhan. Selama puluhan tahun, dia memiliki bayangannya sendiri mengenai Jepang. Baru saat dia kembali, Minae Mizumura sadar bahwa selama ini semua itu hanya fantasi. Negeri yang pernah dia kenal tidak ada lagi. Jepang telah kehilangan jiwa. Ruh.

Keibo Oiwa sependapat. Di kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, dia tidak bisa lagi merasakan jiwa. Globalisasi telah mengubah kota itu berikut isinya menjadi sesuatu atau seseorang yang jauh dari akar. Saat berada di Tokyo, dia tidak bisa berkata bahwa dia berada di Tokyo. Baginya, kota itu seperti kota-kota di Amerika. Mereka, Minae Mizumura dan Keibo Oiwa, lalu mengekspresikan kekecewaannya lewat karya dan aktivitas, dalam bentuk kritik kepada negeri sendiri. Minae Mizumura menulis An I Novel from left to right yang ditulis dalam bahasa Jepang tetapi dibaca dari kiri ke kanan sementara Keibo Oiwa melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Jepang, ke kota-kota kecil, untuk mencari tahu apakah masih ada jiwa yang tersisa di negerinya.

Saya memahami perasaan mereka. Saat mengunjungi Tokyo pada musim semi lalu, saya melihat sendiri bagaimana orang-orang Jepang di sana. Rambut pirang bergelombang. Pakaian bergaya ghotic atau Prancis. Balutan modernitas.

Cerita mereka sangat menarik. Tetapi, yang benar-benar menggugah saya adalah kejujuran mereka. Apa adanya. Tanpa topeng. Terlebih, saat Minae Mizumura ditanya oleh salah seorang peserta, “Pengaruh apa yang diberikan Tragedi 3/11 (merujuk pada gempa bumi, tsunami, dan bencana nuklir yang menyerang Fukushima tiga tahun lalu) kepada Anda? Dan, apa yang Anda tulis mengenai itu?” dia menjawab, “Tidak ada.”

Lebih lanjut Minae berkata, “Saya bukan korban. Keluarga saya bukan korban. Tragedi itu menyedihkan, tetapi tidak berpengaruh secara langsung kepada saya. Dan, saya tidak berada dalam posisi untuk mengekspresikan kesedihan yang disebabkan oleh Tragedi 3/11. Karena itu, saya tidak menulis. Saya tidak berhak.”

Benar-benar jujur.

Minae Mizumura dan Keibo Oiwa memaksa saya melihat apa yang tidak ingin saya lihat. Tetapi kan ini tentang negeri mereka. Saat orang lain menutup-nutupi (atau, paling tidak, menyamarkan) bercak, mereka memaparkan kekurangan yang negeri mereka miliki.

Selama ini, saya mengira bahwa saya sudah cukup jujur lewat tulisan. Saya menulis apa yang disuka tanpa berpura-pura. Tetapi, rupanya itu tidak cukup. Tidak cukup karena saya hanya menuliskan apa yang disuka, tidak pernah sekalipun menuliskan apa yang tidak disuka. Saya, misalnya saja, tidak menggambarkan perasaan saya yang sesungguhnya terhadap Jakarta sewaktu menuliskan kota itu. Sewaktu menulis, seakan-akan saya menutup mata dan menganggap Jakarta baik-baik saja. Padahal, sesungguhnya, saya punya banyak kegelisahan yang berkaitan dengan Jakarta.

Kejujuran tidak seharusnya dipilah-pilah.

Ini membuat saya berpikir panjang malam itu, pada pukul sepuluh, saat melintasi tepi Jalan Hanoman yang temaram dan sepi. Bagaimanapun, saya ingin terhubung dengan pembaca saya lewat tulisan. Itu tidak bisa terjadi jika penulis tidak jujur sepenuhnya. Atau, begitulah menurut saya.

kiss,
W

Advertisements

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s