Ubud Writers & Readers Festival 2014: To Taste Life Twice

uwrf4

3 Oktober di Ubud penuh kegiatan. Pagi-pagi sekali, saya dan tim Gagasmedia sudah mengantre di Taman Baca untuk membeli tiket acara. Lalu, kami berpisah. Saya pergi ke Indus untuk mengikuti diskusi pertama pada hari itu: “Wide Awake Language”.

Bagian Pertama: I-Novel

Diskusi ini menampilkan Sjón, Eimear McBride, dan Bunyamin Fasya. Secara bergantian, ketiganya menceritakan pengaruh budaya dan bahasa daerah terhadap karya mereka. Sjón berasal dari Islandia. Eimear McBride dari Irlandia, dan Bunyamin Fasya dari Sunda. Ketiganya juga membacakan potongan novel atau puisi.

uwrf3

Bunyamin Fasya membacakan puisi bertema Ibu yang–menurut budaya Sunda–adalah sosok yang sakral. Karena kesakralan itulah dia menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam puisinya. Terlalu lancang apabila dia menggunakan sudut pandang orang pertama.

Sementara itu, prosa Eimear McBride kentara sekali dipengaruhi oleh pendidikannya di dunia teater, sangat asyik ketika dibaca keras. Dan, dia membacakannya dengan intonasi yang kaya. Dinamis. Indah. Eimear McBride juga senang memainkan kata. Novelnya mengandung banyak kata yang tidak biasa digunakan. Membaca novelnya membutuhkan referensi. Sama seperti memahami puisi Sunda Bunyamin Fasya. Untuk paham, pembaca terlebih dahulu harus mengenal budaya Sunda dengan baik.

Tetapi, menurut Sjón, itu tidak masalah. Justru bagus. Membaca memang tidak seharusnya mudah. Membaca seharusnya memancing seseorang untuk berpikir dan mencari tahu hal-hal yang tidak dia ketahui. Jika tidak begitu, kata Sjón, untuk apa membaca? Membaca memberi jalan ke pengetahuan baru. Lagi pula, salah satu hal penting yang harus selalu dimiliki oleh manusia adalah kemauan untuk memahami. Untuk itulah ada bahasa.

Ini diskusi yang cukup berat bagi saya, tetapi menyenangkan. Di akhir sesi, Bunyamin Fasya membacakan sebuah mantra Sunda–sambil memegang segelas air di tangannya. Yah, boleh dibilang seperti dukun. Sesaat, suasana Indus berubah mistis. Seru.

Nah, diskusi berikutnya–yang juga diadakan di Indus sehingga saya tidak beranjak dari sofa saya yang nyaman–bisa dianggap sebagai kelanjutan dari program spesial di Ryoshi pada malam sebelumnya karena kembali menghadirkan Minae Mizumura.

Kali ini, Minae membahas novelnya dan permasalahan penerjemahan di Jepang. Ada masanya Jepang menolak budaya asing masuk ke negara mereka, terutama budaya barat. Jadi, ada masanya Jepang tidak menerjemahkan karya asing.
Alih-alih menerjemahkan karya asing, mereka mengadaptasi. Karya tersebut diubah sedemikian supa agar pas dengan budaya Jepang dan bisa dinikmati oleh masyarakat mereka. Silakan bayangkan Romeo & Juliet yang berganti nama, lokasi. Era, dan bahkan jalan cerita. Menarik juga, walau barangkali Shakespeare akan keberatan.

Tetapi, saya memang pernah menemukan sastra klasik yang diadaptasi agar sedikit lebih populer dan tidak terlalu berat, ditujukan kepada pembaca-pembaca remaja, untuk membantu mereka menikmati karya tersebut. Sempat terpikir oleh saya, bagaimana jika sastra klasik Indonesia diadaptasi seperti itu?

Minae Mizumura juga membahas novel terbarunya, A True Novel, yang terinspirasi dari Wuthering Heights Emily Bronte. Novel itu dijual sepanjang Ubud Writers & Readers Festival 2014. (Saya beli dan berhasil mendapatkan tanda tangan sang penulis. Hore!)

Sebelumnya, Minae Mizumura mempopulerkan i-novel di Jepang, genre yang mengisahkan kehidupan penulisnya. Tetapi, ini bukan autobiografi. Ini tetap novel karena tidak seratus persen autentik dan mengandung fiksi dengan kadar tertentu untuk menjaga unsur drama. Saat itu juga, saya mengerti mengapa karya Andrea Hirata bisa masuk dalam shortlist Khatulistiwa Literari Award 2008. Banyak yang berpendapat bahwa karya Andrea Hirata adalah biografi dan tidak seharusnya dinilai sebagai novel. Tetapi, barangkali sesungguhnya itu i-novel.

Ada kalanya, i-novel mengambil rentang besar dalam kehidupan sang penulis sebagai cerita. Ada kalanya, rentang itu lebih singkat. Saya bertanya-tanya, diam-diam saja (tetapi kini tidak lagi jadi rahasia), kalau suatu saat saya menulis i-novel, bagian mana dalam kehidupan saya yang akan diceritakan?

Yang sedang membaca liputan ini, kalau suatu saat kalian menulis i-novel, bagian mana dalam kehidupan kalian yang akan diceritakan?

uwrf6

Bagian Kedua: Merasakan Hidup Lebih Dari Satu Kali

Saya melewatkan sesi ketiga. Apa boleh buat, saya lapar. Lagi pula, tidak ada tema yang menarik dalam sesi tersebut. Jadi, saya bergabung dengan teman-teman Gagasmedia dan makan siang bersama mereka. Kami bertemu dengan Erni Aladjai, penulis Kei, yang menjadi salah satu undangan UWRF tahun ini, dan sempat berfoto bersama di depan Left Bank. Setelah itu, saya kembali memisahkan diri ke Indus. Yang lain ingin mengikuti diskusi “The Publishing History” sementara saya tertarik pada “Family Life”.

Dalam diskusi kali ini, UWRF menampilkan Akhil Sharma, penulis Amerika keturunan India yang mendapatkan Penghargaan Hemingway lewat novel pertamanya. Dia akan menceritakan pengalamannya menulis sesuatu yang terinspirasi dari keluarga.

Novel terbarunya, Family Life bisa juga dikategorikan sebagai i-novel. Akhil Sharma menggunakan pengalaman hidupnya sendiri dalam novel itu. Salah satunya adalah momen ketika kakaknya mengalami kerusakan otak saat berenang hingga kehilangan penglihatan. Dia juga menampilkan keluarganya sebagai tokoh. Menurut Akhil Sharma sendiri, setelah dikemas dan diselipkan potongan-potongan fiksi, Family Life sebuah karya yang hangat dan indah.
Tetapi, pertanyaan pertama yang diungkapkan moderator adalah mengapa novel kedua baru keluar dua belas tahun setelah novel pertama? Apakah Akhil Sharma terbebani karena novel pertamanya disambut sangat baik dan mendapatkan penghargaan? Apakah ide tidak kunjung datang?

Akhil Sharma dengan enteng berkata, “Saya hanya menulis kalau tahu hasilnya pasti bagus. Kalau tidak bagus, hanya buang-buang tenaga saja, tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.”

Jujur, saya merasa tersindir. Sedikit. Pikir saya, barangkali begitulah penulis hebat yang serius. Saya–dan sebagian besar penulis di sekeliling saya–selalu berusaha produktif agar bisa terus eksis di dunia buku Indonesia. Okelah, saya tidak menulis secara sembarangan–itu pasti. Tetapi, saya tidak pernah sekeras itu kepada diri sendiri. Saya tidak pernah membuang ide karena berpikir: sepertinya novel ini tidak akan bagus. Saya cukup senang karena bisa menulis apa yang ada di kepala, berinteraksi dengan tokoh-tokoh rekaan, berusaha terhubung dengan pembaca lewat kisah sederhana. Barangkali, pada masa mendatang, saya perlu lebih serius.

Kembali ke Akhil Sharma. Walaupun berpendapat Family Life karya yang bagus, dia mengaku tidak ingin mengulangi proses penulisannya. Karena, proses penulisannya tidak mudah. Dia menulis berulang-ulang, mencari bentuk yang terbaik, dan merombak berkali-kali. Bahkan, ada titik ketika dia telah menulis ratusan halaman dan merasa novel itu tidak akan selesai. Dan, dia mulai berpikir bahwa hidupnya habis oleh novel itu.

Bagaimanapun, dia menganggap novel itu harus diselesaikan–meski akan memakan waktu dua belas tahun. Dengan menulis Family Life, Akhil Sharma memberikan dirinya sendiri kesempatan. Kesempatan untuk memaafkan dirinya. Karena, terkadang, dia bersyukur bukan dirinya yang mengalami kerusakan otak akibat berenang, melainkan kakaknya.

Dan, kata Akhil Sharma, novel itu adalah harapan. Itu sebabnya seseorang membaca novel. Dia berharap bisa pergi sejenak dari kehidupannya untuk tenggelam sesaat ke kehidupan lain yang ditawarkan oleh novel. Kehidupan yang ingin dia cicipi, tetapi bukan untuk dijalani selamanya. Ada kalanya, seseorang membaca novel untuk merasakan hidup lebih dari satu kali.

Lucu. Begitu pula saya melihat novel selama ini.

uwrf5

Seusai diskusi bersama Akhil Sharma, tadinya saya berniat tetap di Indus untuk mendengar Sjón, Tim Molloy, dan Absurditas Malka membahas berbagai monster dari legenda nenek moyang hingga kehidupan modern. Tetapi, rencana itu batal lantaran saya diculik oleh seorang teman yang datang jauh-jauh dari Denpasar. Karena dia penggila film, kami pun ke Betelnut di Jalan Raya Ubud untuk menonton Tracks, dokudrama yang diangkat dari buku Robyn Davidson.

Tracks film yang menarik. Barangkali, teman-teman sudah menyaksikannya. Buat saya, ini kali pertama. Film itu berkisah tentang Robyn Davidson–jurnalis asal Australia–saat masih muda. Dia menyeberangi gurun pasir bersama tiga unta, diperankan oleh Mia Wasikowska.

Robyn Davidson yang kehilangan ibunya lewat peristiwa tragis saat masih kecil berusaha berdamai dengan masa lalu sekaligus ingin mencapai sesuatu. Dia hidup berkecukupan bersama kerabatnya. Tetapi, lalu dia memutuskan untuk melakukan perjalanan sendiri menyeberangi benua. Dia pindah dari satu kota ke kota lain, menumpang di penginapan sampai membuat tenda sederhana di tengah tanah tandus.

Dia berusaha mendapatkan unta dengan bekerja di peternakan. Dia juga belajar menangkap unta liar. Semua itu tidak mudah. Banyak rintangan yang harus dilewati. Ada penipuan dan masalah keuangan.

Perjalanan Robyn Davidson dibiayai oleh National Geographic. Dia melakukan perjalanan ditemani oleh seorang fotografer yang muncul setiap lima minggu. Dia mendapatkan petualangan yang luar biasa, tetapi juga kehilangan sesuatu yang berharga. Pada akhirnya, saya rasa, Robyn Davidson mendapatkan apa yang dia inginkan.

Kisahnya sangat menyentuh, menurut saya. Menggugah emosi. Setelah menonton, saya mendapat ide novel. Tetapi, baru ide, butuh waktu untuk berkembang.

Saya pun kembali ke penginapan dengan sejumlah buku dan perasaan puas. 3 Oktober di Ubud penuh inspirasi.

kiss,
W

Advertisements

One thought on “Ubud Writers & Readers Festival 2014: To Taste Life Twice

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s