Ubud Writers & Readers Festival 2014: Less, Smaller, Slower

uwrf 4 okt2

Ini bukan hari terakhir Ubud Writers & Readers Festival. Tetapi bagi saya, sayangnya, ini adalah hari terakhir. Sebelum malam, saya harus berpisah dengan teman-teman dari Gagasmedia dan kembali ke Jakarta. Saya masih sempat mengikuti dua diskusi dan mampir ke Museum Puri Lukisan walau begitu. Saya juga mengintip rumah I Gusti Nyoman Lempad.

Kami pergi ke lokasi festival sedikit lebih siang hari ini. Pasalnya, tidak jauh dari Jalan Raya Ubud kami sempat terpikat Kou, toko lucu yang menjual selai dan sabun batangan buatan sendiri. Begitu tiba di Jalan Sanggingan, seperti biasa, saya dan teman-teman berpencar. Saya, sekali lagi, bertemu Keibo Oiwa. Bersama seorang sineas asal Jepang juga, Eiji Han Shimizu, dia membahas kehidupan di Jepang setelah Tragedi 3/11.

Bagian Pertama: Keindahan Lahir dari Kesederhanaan

Apakah Tragedi 3/11 yang terjadi di Fukushima tiga tahun lalu membawa perubahan pada kehidupan di Jepang? Itu pertanyaan yang memicu diskusi ini. Tetapi, Keibo Oiwa dan Eiji Han Shimizu tidak sedang berusaha mengeksploitasi para korban. Mereka aktivis lingkungan hidup dan sineas dokumenter. Keduanya menjawab pertanyaan di atas dengan sudut pandang mereka.

uwrf8

Bagi Keibo Oiwa, Tragedi 3/11 tidak mengejutkan. Itu bencana yang sudah dia perkirakan. Dua puluh tahun lalu, dia memprotes keputusan pemerintah Jepang yang berhubungan dengan energi nuklir dan memaparkan bahaya yang bisa terjadi, tetapi tidak ada yang peduli. Jadi, saat bahaya itu sungguh-sungguh terjadi tiga tahun lalu di Fukushima, Keibo Oiwa berkata, “Sudah saya katakan.”

Kini, dia berharap pemerintah dan masyarakat Jepang cukup bijak untuk menyadari bahwa selama ini negara mereka telah menempuh jalan yang salah, bahwa sudah saatnya mereka kembali ke pola pikir dan gaya hidup yang lebih bertanggung jawab. Wacana mengenai hal ini mulai bermunculan, tetapi lawan mereka adalah globalisasi.

Melalui perusahaan-perusahaan besar di dunia, globalisasi menekan masyarakat dan pemerintah Jepang untuk tidak melakukan perubahan. Sebelumnya, globalisasi pula yang membawa mereka hingga ke situasi ini.

Keibo Oiwa mengaku secara terang-terangan bahwa dia antiglobalisasi. Globalisasi mengendalikan kebutuhan manusia, termasuk kebutuhan paling mendasar. Sadar atau tidak sadar, pola pikir kebanyakan manusia saat ini (barangkali kita termasuk), disetir.

Dahulu, kita bisa hidup tanpa ponsel. Mengapa sekarang tidak? Dahulu, kita puas dengan satu mobil per satu keluarga. Mengapa sekarang tidak? Mengapa kita–terutama para perempuan, saya termasuk–tidak pernah merasa cukup membeli sepatu dan pakaian? Mengapa di setiap kota di dunia harus ada Starbucks dan H&M? Mengapa kita membangun pabrik dan menghancurkan ladang dan hutan? Mengapa kita harus bekerja lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak uang? Mengapa waktu adalah uang?

Karena, kita–kata Keibo Oiwa–tanpa sadar telah menjadi tahanan globalisasi. Perlahan-lahan, kita menghancurkan bumi dan diri kita.

Saya setuju. Walau, sejujurnya, saya tidak bisa memutuskan apakah saya antiglobalisasi. Saya tidak menyukai globalisasi. Pada saat yang bersamaan, saya tidak tahu apakah bisa hidup tanpa globalisasi. Tetapi, jika sebagian orang mulai melawan globalisasi, saya ingin melihat apakah kami satu pemikiran.

“Bagaimana melawan globalisasi?” Salah seorang peserta bertanya.

“Dengan tidak ikut ambil bagian,” jawab Keibo Oiwa. “Berhenti berpikir more, bigger, faster. Mulailah berpikir less, smaller, slower. Jangan jadikan pertumbuhan ekonomi sebagai alat ukur perkembangan diri kita. Gunakan pertumbuhan kebahagiaan. Waktu bukan uang.”

Eiji Han Shimizu menimpali. Dia memberi contoh sederhana mengenai dua pola pikir yang disebutkan Keibo Oiwa. Setelah menyatukan Jepang pada 1590, Hideyoshi bermaksud memperluas daerah kekuasaan ke Korea dan Tiongkok. Untung saja, dia tidak berhasil. Tokugawa, sebaliknya, sengaja memperkecil wilayah Jepang agar bisa membangun negara dengan lebih baik.

Contoh kedua adalah Kinkaku-ji (Kuil Emas) dan Ginkaku-ji (Kuil Perak) di Kyoto. Yang menarik adalah Ginkaku-ji dibangun setelah Kinkaku-ji, padahal dalam situasi sekarang–dengan pola pikir globalisasi–seharusnya ada kuil emas kedua yang berukuran lebih besar. Kinkaku-ji memang mencerminkan budaya mewah dan elegan Era Muromachi sementara Ginkaku-ji merepresentasikan Budaya Higashiyama yang percaya bahwa keindahan lahir dari kesederhanaan.

Masuk akal. Ada masanya arsitektur menganut less is more. Dan, jika ingin mengaitkan hal ini dengan tulis-menulis, saya sendiri percaya bahwa karya yang dibuat secara terburu-buru tidak akan bagus. Sebaliknya, karya yang dibuat secara berhati-hati akan memikat.

Jadi, seusai diskusi itu, sambil meninggalkan Left Bank, saya memutuskan untuk sedikit demi sedikit tidak ikut ambil bagian dalam globalisasi, selangkah demi selangkah menarik diri dan berusaha berpikir less, smaller, slower.

Bagian Kedua: Penulis yang Baik Tahu Kapan Harus Berhenti

Di luar Left Bank, Resita–pemimpin redaksi Gagasmedia–menunggu saya. Dengan motor, kami memelesat turun dari Jalan Raya Sanggingan. Kami sudah janjian dan cuma punya sedikit waktu untuk mengunjungi Museum Puri Lukisan dan tempat tinggal Lempad di Jalan Raya Ubud.

Di salah satu bagian Museum Puri Lukisan, karya-karya Lempad dipamerkan. Saya harus mengakui ini. Saya tidak mengenal Lempad dengan baik, kalah oleh turis-turis asing yang “akrab” dengan beliau. Jadi, saat melihat karya-karyanya, saya terkejut sekaligus senang. Lukisannya khas. Cara dia menggambar bentuk, menarik garis, memberikan detail. Jarang ada. Dia lebih sering menggunakan tinta. Hal-hal yang dia ceritakan lewat karya-karyanya adalah tarian-tarian dan dongeng-dongeng daerah. Menarik sekali.

Museum Puri Lukisan itu sendiri sangat cantik. Salah satu tempat yang akan saya kunjungi berulang-ulang dan berlama-lama andai punya lebih banyak waktu di Ubud.

Saya tidak bisa bercerita banyak mengenai rumah Lempad. Biar foto-foto di bawah ini mewakili cerita pengalaman saya.

uwrf13 uwrf12

uwrf11

uwrf10

Kembali ke Jalan Raya Sanggingan, saya menyelinap masuk ke Indus untuk mengikuti diskusi terakhir yang bisa dinikmati sebelum saya pulang ke Jakarta. “The Magic Mem Fox”. Saya mengincar ini sejak awal.

Mem Fox adalah nama penulis cerita anak kelahiran Inggris. Dia terkenal karena Possum Magic–salah satu buku cerita anak paling laris di dunia hingga saat ini–dan Where Is The Green Sheep? Saya tertarik bertemu dengannya karena suatu saat ingin juga menulis cerita anak. Dan, saya tahu menulis cerita anak tidak mudah. Penting sekali belajar dari orang yang tepat. Putri saya, Balerina, menyukai cerita-cerita anak dari luar negeri. Dia tidak menikmati cerita-cerita anak dari dalam negeri. Bukan tentang selera. Bukan pula karena terbiasa. Ada sesuatu, entah apa, yang menjadikan cerita-cerita anak dari luar negeri lebih asyik.

Diskusi ini banyak membahas kehidupan Mem Fox sebelum pada akhirnya menyinggung proses kreatif pembuatan Where Is The Green Sheep? Mem Fox seorang pendidik, rupanya. Dia pernah mengajar di universitas. Sebelumnya, dia sekolah seni dan memiliki kemampuan akting yang–menurutnya sendiri–biasa-biasa saja. Kini, dia pembicara di berbagai seminar parenting. Dia membantu para orangtua menjadi lebih bahagia sehingga anak-anak mereka bahagia.

Saya rasa, rahasia keberhasilan Mem Fox dalam menuliskan cerita anak adalah kenyataan bahwa dia mencintai dan menghargai anak-anak. Dia mengajak mereka mengalami petualangan yang menyenangkan dan tidak berusaha menggurui. Dia sahabat sekaligus idola anak-anak.

Tetapi, dia mengaku bahwa menulis cerita anak memang tidak mudah. Sangat sulit, bahkan. Where Is The Green Sheep ditulis satu tahun lebih, sebuah buku yang setiap halamannya hanya menampilkan satu (atau paling banyak dua) kalimat sederhana. Bayangkan.

Here is the blue sheep.

And here is the red sheep.

But where is the green sheep?

Pada bulan keenam penulisan, dia mengalami kebuntuan. Ya. Ternyata, penulis cerita anak pun mengalami kebuntuan. Dia berkutat dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang telah ada, tetapi tidak kunjung menemukan kelanjutannya. Bahkan, dia sempat kehilangan rasa percaya diri. Pikirnya, “Saya tidak bisa menulis ini. Terlalu sulit. Oh, tapi saya kan Mem Fox. Saya menulis Possum Magic.” Lalu, dia mengambil keputusan berani.

Dia berhenti menulis.

Katanya, “When you stuck with your writing, then stop writing. If you stop writing, you also stop the condition of being stuck.” Dan, dia sungguh-sungguh berhenti. Bukan sekadar istirahat agar bisa melanjutkan naskahnya satu-dua minggu kemudian. Dia memutuskan untuk tidak meneruskan naskah itu. Lalu, dia meninggalkan meja tulis dan melakukan hal yang ingin dia lakukan.

Karena, menurut Mem Fox, proses kreatif tidak pernah terjadi di meja tulis, di hadapan laptop. Proses kreatif selalu terjadi saat kita memasak makan malam, melamun di bus, belanja di pasar, atau keramas di bilik kaca di kamar mandi. Kehidupanlah yang memancing kita kreatif, bukan duduk berjam-jam memelototi halaman kosong di Microsoft Word. Terkadang, seorang penulis perlu tahu kapan dia harus berhenti.

Itu benar. Kalau dipikir-pikir, itu pula yang kerap saya alami. Ide datang kepada saya justru pada saat saya tidak sedang menulis. Aneh, ya?

Maka, ide pun mendatangi Mem Fox. Bagaimanapun, Si Domba Hijau terus-menerus menghantuinya. Saat mandi, dia menemukan kisah yang ingin ditulis. Belum utuh. Tetapi, seperti bola salju yang menuruni bukit, ide-ide muncul bersusulan, satu per satu, dan saling terkait; semakin lama semakin utuh. Dia pun keluar dari bilik kaca di kamar mandi. Telanjang bulat, dia menghampiri meja tulis dan kembali menulis. Sebuah naskah baru.

Begitulah. Menulis cerita anak tidak mudah. Kalau ada yang membaca Where Is The Green Sheep lalu berkomentar, “Ah, cuma begini. Saya juga bisa menulis ini,” Mem Fox ingin dia mencoba.

Tentu saja, saya membawa pulang satu eksemplar Where Is The Green Sheep untuk Balerina. Lengkap dengan tanda tangan Mem Fox di dalamnya. Saya bercerita kepada Mem Fox bahwa Balerina terbiasa dibacakan cerita sejak usia tiga bulan. Dia menebak Balerina pasti pintar. Saya tidak ingin menyombong, tetapi Balerina memang pintar–dan culas.

mem fox mem fox2 mem fox3 mem fox4

Oke. Rasanya, saya sudah menceritakan semua yang ingin saya ceritakan tentang Ubud Writers & Readers Festival 2014. Saya berharap bisa hadir lagi lain waktu bersama Balerina. Saya ingin dia mengalami pengalaman mengasyikan yang saya alami. Semoga ada kesempatan untuk itu.

Teman-teman Taste Life Twice juga perlu hadir, pastinya. UWRF dilangsungkan setiap tahun di Indonesia, tetapi justru kita tidak banyak tahu, tidak banyak ikut serta pula. Ini festival seru di salah satu kota paling menyenangkan di Bali. Berlibur sambil ngobrolin buku. Sempurna!

kiss,
W

Advertisements

3 thoughts on “Ubud Writers & Readers Festival 2014: Less, Smaller, Slower

  1. Bagian ini menyentuh banget mbak..

    “Jangan jadikan pertumbuhan ekonomi sebagai alat ukur perkembangan diri kita. Gunakan pertumbuhan kebahagiaan. Waktu bukan uang.”

    Agreed with Keibo Oiwa :’)

    Like

  2. Satu yang saya sesalkan kenapa saya baru tau sekarang tentang website ini.
    Disaat giveaways yg diadakan sudah lewat, dan itu kemarin ;(
    Hei btw setelah saya scroll ke halaman belakang saya baru tau mbak hadir di UWRF 2014 kemarin ya? Wah sayang banget kita ga ketemu.

    Taukah mbak aku memang asli orang Ubud. Beruntung banget salah satunya karena ada festival ini. Saya disini sebegai pecinta buku atau lebih tepat saya suka sekali membaca buku. Semenjak tau di adakan festival ini di Ubud satu kata yaitu WOW!!

    Di tahun kemarin say sempet dateng pas meet and greet sama Mbak Trinity dan itu pengalaman yg sangat berharga buat saya. Dan Tahun ini ada bbrp acara yg saya hadiri di UWRF 2014. Btw mbak ke Ubud sama crew Gagasmedia ya?

    Apakah festival tahun depan mbak akan datang lagi ke Ubud? Kalau datang mudah-mudahan kita bisa ketemu ya 😉

    see ya!! ^^

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s