Kisah Kawan di Ujung Sana

IMG_0371262 hal. | Noura Books, 2014

Saya sedang tidak jatuh cinta pada pandangan pertama dengan tulisan-tulisan Twosocks dan Gypsytoes (atau Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang – seperti yang tertera pada sampul muka). Di satu masa, saya pernah beberapa kali berkunjung dan menikmati tulisan mereka di blognya. Saya menikmatinya, seperti saya selalu menikmati catatan perjalanan milik Hanny dan Windy – dua orang penulis yang dapat membuat saya terharu setiap kali membaca tulisan-tulisan perjalanan mereka. Tapi, mungkin itulah kekuatan sebuah buku fisik – yang bisa kita resapi setiap lembar halaman demi halamannya dan kita hidu aroma kertasnya yang (bagi saya) beraroma seperti kumpulan kenangan. Ya, saya jatuh cinta pada tulisan-tulisan mereka setelah memegang buku berwarna tosca tersebut dan membaca setiap lembar di dalamnya.


IMG_0392Tulisan-tulisan Twosocks selalu memberi saya pengetahuan baru. Juga senyum simpul setiap kali ia berkisah lucu dengan rasa semanis permen. Sementara, tulisan milik Gypsytoes entah kenapa turut membawa saya bertualang bersamanya. Ada rasa yang tidak bisa saya jelaskan setiap membaca tulisan mereka. Mungkin saya hanya terlalu lebay, atau tulisan mereka memang memberikan efek tak terjelaskan “seperti itu” pada saya. Apa pun itu, saya menyukainya dan membuat saya ingin menulis.
IMG_0395Tentunya selalu ada favorite dalam setiap kumpulan cerita yang kita baca. Dalam buku ini, kesukaan saya ada banyak, ternyata. ‘Dan Gunung-gunung Memanggil’ adalah yang pertama karena mengingatkan akan rindu saya pada Mama. Memang, Mama jelas tidak ada hubungannya dengan gunung kecuali anak bungsunya (adik saya) yang hobi naik gunung. Mungkin mimpi Twosocks akan Ajik yang menyebabkannya.
IMG_0394Yang kedua adalah ‘Menyapa Shakespeare di Paris’. Okey, ini sebenarnya hanya karena saya iri dengan perjalanan Gypsytoes ke toko buku Shakespeare and Co tersebut. Serta, rasa sesal karena saya tidak menyempatkan waktu mengunjungi tempat itu saat ke Paris tiga tahun lalu. Saya senang Gypsytoes mau berbagi apa yang ia lihat dan rasakan saat berada di dalamnya. Saya rasa, itulah yang akan saya rasakan juga jika berada di tempat itu.

Ketiga (dan terakhir – cukup tiga saja) adalah ‘Wajah Bali yang Murung Sebelah’ karena saya sungguh satu pendapat dengan tulisan ini. Saya pun kurang menyukai Kuta karena terlalu riuh. Menghabiskan waktu di sana bukan hal yang saya kejar saat berlibur ke Bali. Ah, tapi mungkin saya harus lebih sering memilih untuk membeli cendera mata di pasar tradisional. πŸ™‚
IMG_0393Buku ini ditutup dengan sangat baik dan sungguh mewujudkan apa yang diucapkan oleh Paul Sweeney, “You know you’ve read a good book when you turn the last page and feel a little as if you have lost a friend.”

Perjalanan juga adalah tentang pertemanan yang muncul di dalamnya.
-Twosocks

love,
A

Advertisements

One thought on “Kisah Kawan di Ujung Sana

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s