Lelaki yang Tidak Memiliki Warna dan Luka Masa Lalu

tsukuru tazaki

386 hal  |  Knopf, 2014

Biasanya, saya tidak menangis saat membaca buku-buku Haruki Murakami. Dia bukan penulis yang menjual kisah-kisah sentimental. Tetapi, pada bab-bab terakhir Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage, air mata saya bergulir satu per satu membasahi bantal. Saya tidak bisa menahan rasa hangat yang meluap di dada saya. Balerina sampai mendatangi saya dan bertanya, “Kenapa? Bukunya sedih, ya?” Jawab saya, “Tidak. Bukunya bagus.”

Barangkali, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage tidak membawa tema besar, tidak terlalu eksperimental juga, tetapi bagi saya ini buku Haruki Murakami yang paling menyentuh. Kisahnya sederhana. Tentang Tsukuru Tazaki yang mencari jawaban mengenai peristiwa masa lalu yang memengaruhi hidupnya.

Seperti yang disebutkan dalam judul, sang tokoh utama tidak punya warna sementara keempat temannya sedari kecil punya–dalam nama mereka. Aka (merah), Ao (biru), Shiro (putih), Kuro (hitam). Dia juga merasa tidak memiliki daya tarik dan bakat, tidak punya keinginan pula, tidak seperti teman-temannya. Dia tidak punya warna dalam arti lain. Meskipun begitu, mereka akrab dan menjalin hubungan yang harmonis hingga menjelang dewasa. Menjelang dewasa, Tsukuru memutuskan untuk kuliah ke Tokyo. Teman-temannya tetap di kota kelahiran mereka, Nagoya.

Tidak lama setelah dia ke Tokyo, teman-temannya memutuskan hubungan dengannya. Tiba-tiba. Tanpa alasan yang jelas. Dia dikeluarkan dari kelompok mereka begitu saja. Kejadian ini menyebabkan Tsukuru Tazaki terguncang dan terobsesi bunuh diri selama beberapa tahun. Dia berhasil melewati masa sulit itu dan melanjutkan hidup.

Pada usia 36, Tsukuru Tazaki tampak baik-baik saja. Dia telah bekerja sebagai perancang stasiun kereta, memiliki kekasih, dan siap melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Tetapi, kekasihnya–Sara–berpendapat bahwa Tsukuru Tazaki tidak baik-baik saja. Tsukuru Tazaki terikat beban masa lalu. Luka yang menghalanginya maju. Sesuatu yang harus dia tuntaskan. Pertanyaan yang belum terjawab. Dia bisa melupakan kenangan, tetapi tidak bisa menghapus masa lalu yang menciptakan kenangan itu.

Maka, Tsukuru Tazaki kembali ke Nagoya untuk mencari jawaban dari keempat temannya sedari kecil..Dia juga pergi ke Finlandia. Dia menemui mereka satu per satu.

Ini kisah tentang hidup dan harapan, menurut saya. Barangkali, karena itu saya tersentuh. Saya lemah terhadap tema-tema demikian. Saya juga lemah terhadap apa pun yang berbau masa lalu. Dan lagi, kali ini Haruki Murakami tidak terlalu nakal. Ada sedikit sentuhan surealisme (Yah, apa jadinya Haruki Murakami tanpa sentuhan surealisme?), tetapi itu masih bisa ditafsirkan dalam pemikiran realisme.

Kata-kata kesukaan saya dalam buku ini adalah:

We survived. And those who survive have a duty. Our duty is to do our best to keep on living. Even if our lives are not perfect.

Indah.

Terkadang, kita tidak butuh kisah yang hebat. Kita hanya butuh kisah yang bisa membuat kita merasa hangat.

Kiss,
W

Advertisements

One thought on “Lelaki yang Tidak Memiliki Warna dan Luka Masa Lalu

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s