Menyapa Christian Simamora di Twigora

christian simamora

Ketika Christian Simamora keluar dari GagasMedia pada awal 2014, saya dan beberapa penulis kebingungan. Sefryana Khairil bertanya kepada saya lewat Whatsapp, “Bagaimana nasib kita tanpa Abang? Siapa yang mengurus kita?” dan dia memasang ikon menangis. Saya membalas, “Kalau kamu bertanya begitu ke Christian, pasti dia menjawab begini, ‘Ih, urus diri sendiri, dong. Kalian kan sudah gede.'” Lalu, kami tertawa–lalu Sefry memasang ikon menangis lagi.

Bagi kami, dan barangkali bagi banyak penulis GagasMedia lain, Christian seperti induk ayam. Saya sendiri merasa kehilangan. Dia keluar tepat pada saat saya baru mengetahui asyiknya berdiskusi naskah dengannya. Dia tipe editor yang mengenal penulis-penulisnya dengan baik dan tahu persis cara memancing kreativitas mereka.

Kini dia di Twigora. Setelah beberapa waktu tidak bekerja bersama dengannya, saya sedikit kangen. Jadi, saya menghubunginya dan meminta wawancara. Tentu, saya mewakili Taste Life Twice. Silakan disimak obrolan seru saya dengan Christian.

Saya: Christian, pembaca kami ingin dengar kabar terbaru kamu. Bisa ceritakan sedikit, apa saja kesibukan kamu satu tahun ini?

Christian: Bisa dibilang, tahun ini adalah tahun terproduktifku. Tiga novel baru (termasuk As Seen On TV #ASOT yang baru saja terbit) dan dua novel repackage rilis sepanjang 2014 ini. It’s really a blast, really.

Saya: Kita kenal enam tahun yang lalu, saat novel pertamaku diterima GagasMedia dan kamu menjadi editorku. Sampai beberapa waktu lalu, kamu memang sangat identik dengan GagasMedia. Kamu, kalau boleh kubilang, salah satu orang penting di GagasMedia yang menemukan, lalu membentuk beberapa penulis mereka. Kamu juga pencetus ide-ide. Nah, beberapa waktu lalu, kamu memutuskan untuk keluar. Banyak yang pengin tahu alasannya.

Christian: I’ve heard some rumours and most of them are hilarious. Kebanyakan sih mengira karena aku ada masalah internal dengan redaksi. Sayangnya, nggak begitu.

Aku memutuskan untuk keluar karena sudah saatnya untuk keluar. Alasan awal aku ketika masuk sebagai editor GagasMedia adalah karena aku ingin belajar sebanyak-banyaknya tentang dunia penerbitan dan bagaimana caranya menerjemahkan ilmu itu untuk meningkatkan kemampuan menulisku. Dan setelah delapan tahun bekerja, aku merasa sudah saatnya membuktikan kalau aku bisa mewujudkan mimpi sebagai penulis full time. Teman-teman redaksi GagasMedia bisa mengerti alasanku ini dan mendukung seratus persen. Hubungan kami pun baik-baik saja sampai sekarang.

Saya: Tidak lama, kamu muncul dengan Come On Over dan Twigora. Twigora adalah penerbit yang kamu dirikan, benar? Kapan keinginan untuk mendirikan Twigora muncul? Apa yang memicunya? Apa kamu sendiri atau bersama orang lain dalam hal ini?

Christian: Penginnya sih bisa memberi cerita yang cool tentang sejarah berdirinya Twigora. Sayangnya nggak. Haghaghag.

Twigora muncul di saat menanti tanggal rilisnya Guilty Pleasure dan setelah Come on Over #CO2 selesai ditulis. Ketika mengobrol dengan Grace, adikku, tiba-tiba saja ide gila muncul: kenapa nggak #CO2 diterbitkan sendiri aja? Kedengarannya memang seru… sampai aku berhadapan dengan sejumlah tetek-bengek tentang proses pendirian perusahaan, mengurus ISBN, dan lain-lain. Untungnya, ada Grace sebagai partner yang membantuku selama fase itu. Jadi akunya pun nggak gila-gila amat karenanya.

Setelah Twigora resmi berdiri, aku dan Grace sepakat untuk berbagi tugas. Dia akan mengurus soal keuangan dan administrasi sedangkan aku bisa sepuas-puasnya mengurus teknis produk. Bisa dibilang, Twigora adalah mainan baru yang nggak membosankan. Dan karena masih satu arah dengan mimpiku, jadi nggak terasa seperti beban.

Saya: Bisa ceritakan pengalaman kamu menyiapkan dan menjalankan Twigora? Dalam bayanganku, mendirikan penerbit bukan hal gampang. Pastinya banyak yang harus diurus agar sebuah buku bisa diedarkan di toko.

Christian: Mendirikan penerbit sebenarnya gampang, seriously. Semua urusan administrasi, hukum, dan segalanya memang terasa menyulitkan di awal, tapi masih doable. Yang mulai bikin stres justru saat mempersiapkan produk.

Sebagai penerbit baru, ternyata memang harus punya visi dan konsep tentang produk. Nggak boleh ‘hanya menerbitkan saja’. Setelah riset cukup lama dan dibantu dengan diskusi bersama teman-teman penulis, akhirnya mulai kebayang deh Twigora akan dibawa ke arah mana. Come On Over adalah proyek pilot yang bikin deg-degan sejak hari pertama terbit. Gimana dengan sampulnya, pembaca suka nggak? Penyebarannya gimana? Reaksi pembaca saat tahu aku ‘pindah’ gimana? Promonya? Yeah, things like that.

Syukurnya, berkat dukungan teman-teman pembaca dan distributor yang sangat kooperatif, buku pertama Twigora direspon dengan baik. Dan ketika As Seen On TV dipersiapkan terbit, perasaan deg-degannya nggak seintens seperti saat mengerjakan Come On Over. Lebih banyak happy-nya, malah.

Saya: Omong-omong, apa arti “Twigora”, sih?

Christian: Twigora is a made up word. “Twiga” berasal dari bahasa Afrika, artinya jerapah. Dan “ora” berasal dari bahasa Latin, artinya berdoa.

Harapannya, Twigora bisa seperti jerapah di teori Darwin, yang nggak kapok-kapok berevolusi hingga akhirnya berhasil mendapatkan yang dia mau di puncak pohon. Sedangkan “ora” dimaksudkan sebagai pengingat supaya jangan lupa berdoa dan mengucap syukur atas keberhasilan yang dicapai.

Saya: Apa yang membedakan Twigora dengan penerbit-penerbit lain? Buku-buku seperti apa saja yang rencananya akan ditawarkan ke pembaca?

Christian: Saat ini, jenis terbitan Twigora adalah contemporary romance. Sengaja mengincar pembaca dewasa karena penerbit yang berkonsentrasi di buku-buku remaja sudah sangat banyak. Males banget lah ya berenang di kolam yang terlalu banyak orangnya. Haghaghag!

Saya: Tapi belakangan ini, banyak sekali penerbit baru di Indonesia. Sebagian di antaranya cuma ada beberapa tahun, lalu menghilang. Kita sama-sama tahu, persaingan di dunia buku Indonesia sangat ketat. Apa trik Twigora supaya bertahan dan berkembang?

Christian: Know your readers. Sesederhana itu. Dan semakin setia kita dengan pembaca, mereka pun semakin setia dengan kita.

Aku nggak bisa berkata lebih banyak lagi karena merasa Twigora belum banyak mendapat ujian. Tapi apapun yang akan kami temui nanti di depannya, asal tetap bersetia dengan pembaca, pasti bisa dilewati dengan baik.

Saya: Oooh. Oke. Noted. Nah, sebagai penulis, apa keasyikan menerbitkan buku sendiri?

Christian: Sebenarnya sama saja dengan sewaktu masih menjadi editor sekaligus penulis di GagasMedia. Bedanya, kalau dulu dengan santainya bilang ke desainer, “Kali ini penginnya model cowoknya pake kemeja yang nggak dikancingkan gitu. Nggak ada alasan, kayaknya seksi aja. Haghaghag!” (waktu ngomongin tentang kaver repackage Pillow Talk)

Sekarang harus lebih detail: “I’m thinking… art deco. Era 1920 pas banget menggambarkan aura glamor tapi tetap mempertahankan sisi gentleman. Warnanya pilih yang biasa muncul di menswearblack, white, blue maybe? Aku kirimkan moodboard-nya ya ke e-mail kamu. Referensi warna, foto-foto, poster film lama dari masa itu, dan sebagainya ada di sana.” (waktu ngomongin tentang kaver As Seen On TV)

Moodboard is my hero. Berhubung aku nggak terlalu jago menjelaskan bahasa teknis desain ke desainer, jadi mending aku tunjukkan dengan referensi. Kadang-kadang aku menggunakan kemampuanku menggunakan Photoshop yang terbatas, jadi bisa nunjukkin langsung seperti apa yang aku mau. Teman-teman desainer, ilustrator, dan setter syukurnya kenal aku secara personal, jadi saat aku sedikit (sedikit?) psychotic dengan semua keremponganku, mereka tahu memang seperti itulah aku bekerja. Dan toh setelah urusan pekerjaan selesai, aku dan mereka bisa kembali ber-haha-hihi dan ngomong nggak penting seolah nggak pernah terjadi apa-apa.

Saya: Hem, sekarang kita bahas hal yang sedikit teknis. Secara spesifik, penulis-penulis seperti apa yang kalian cari?

Christian: Twigora mencari penulis contemporary romance dengan kriteria sebagai berikut:

• Berplot cepat, dengan dialog luwes dan witty.
• Karakter perempuannya kuat dan modern.
Setting masa kini.
• Ditulis dengan gaya fresh.

Penulis-penulis yang karyanya bisa dijadikan referensi: Susan Elizabeth Phillips, Jennifer Crusie, Julie James, Rachel Gibson, Kristan Higgins, Erin McCarthy, Susan Donovan, Victoria Dahl, Susan Mallery, dan Carly Philips. They are all my favorite authors too.

Saya: Kalau penulis ingin mengirim naskah ke Twigora, persyaratan apa saja yang harus dipenuhi? Dan, ke mana mengirimnya?

Christian: Panjang naskah 30.000-40.000 kata, Times News Roman 12, spasi 1.

Setiap naskah yang dikirim harus menyertakan biodata singkat dan ringkasan cerita sepanjang 500-1.000 kata. Bisa dikirimkan via website http://www.twigora.com atau kirim ke alamat redaksi, JL. NUSANTARA RAYA 99B, RT 04 RW 13 BEJI BARAT, KEC. DEPOK UTARA 16421.

Saya: Terakhir nih, Christian. Kami ingin sekali tahu tentang buku terbaru kamu, As Seen On TV! Judulnya, seperti biasa, keren. Tentang apa, nih, buku ketiga belas kamu? Kali ini, tokoh-tokoh seperti apa yang diceritakan?

Christian: Karakter utama #ASOT adalah Javier dan Kendra. Javi (panggilan Javier di novel) adalah anak bungsu yang bisa dibilang pencilan di antara kakak-kakaknya yang overachiever. Sedangkan Kendra adalah seniman OOAK (one of a kind) doll yang juga bekerja sebagai manajer di kafe bertema Rusia-nya Javi, Tolstoy.

ASOT-DEPAN-500

As Seen On TV #ASOT aku tulis dengan premis sederhana sebenarnya: gimana kalau orang yang kamu cintai selama ini ternyata nggak ada feeling ke kamu sama sekali? Sudah lama banget pengin nulis novel tentang cinta bertepuk sebelah tangan, tapi baru benar-benar ketemu konsepnya sekarang. Dan sekali ini, saking terlalu connect-nya dengan karakter di #ASOT, beberapa kali aku mendapati diriku ikutan patah hati beneran. Muramnya kebawa sampai ke dunia nyata, makanya berkali-kali drafnya aku telantarkan saking takutnya mengalami hal serupa. Hanya mukjizat yang bikin aku bertahan nggak menangis selama menulis #ASOT. Haghaghag!

Oke, itu tadi obrolan kami. Setelahnya, saya malah merasa semakin kangen. Semoga suatu saat, saya bisa bekerja sama dengan Christian Simamora lagi. Dahulu, saya kerap jengkel kalau menerima surel teror dari Christian yang isinya tagihan naskah. Sekarang, kotak surat saya sepi intimidasi, tidak seru.

Terima kasih, Christian, atas jawaban-jawabanmu. Aku senang kita bisa mengobrol singkat. Kudoakan kamu dan Twigora semakin berkembang. Sampai kali berikutnya. Belanja bareng, mungkin?

Kiss,
W

Advertisements

7 thoughts on “Menyapa Christian Simamora di Twigora

  1. Seneng baca postingan ini, jadi tahu alasan sebenarnya bang ChrisMor ‘pergi’ dari Gagas. Saya pembaca buku Gagas dan ngerasain perkembangan pesat sewaktu Gagas dipengang oleh bang ChrisMor daripada awal-awal Gagas terbentuk dulu, semoga bang ChrisMor sukses dengan rumah barunya, ditunggu buku-buku terbitan dari Twigora, di mana buku-buku yang diterbitkan adalah ‘genreku banget’ 🙂

    Like

  2. Sempet kaget waktu baca status facebook ka Christ yang isinya kabar kalau hari itu (lupa tanggal berapanya) adalah hari terakhir ka Christ di Gagas. Langsung kepikiran impian aku buat nerbitin novel di Gagas dengan ka Christ sebagai editornya pupus..
    Tapi akhirnya tau alasan ka Christ keluar dari Gagas, aku ikut senang juga..
    selamat.. sukses untuk Twigora

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s