Ideas, Where Art Thou?

mesin tik

Barangkali, pertanyaan yang paling sering ditemui oleh seorang penulis adalah ini: dapat ide dari mana? Dalam diskusi buku, wawancara, obrolan radio, dan bahkan resensi, pertanyaan itu selalu muncul. Tidak pernah tidak. Aneh sekali. Biasanya, si penanya menunggu jawaban sambil memandangi kami–penulis–dengan mata yang bersinar, yang menanti sesuatu.

Saya tahu apa yang diharapkan oleh si penanya, apa yang ingin dia dengar. Sesuatu yang menakjubkan, yang memperkuat kepercayaannya bahwa ide adalah hal yang istimewa, seperti cahaya terang yang turun dari langit.

Tetapi, sungguh, ide-ide yang saya dapatkan tidak turun dari langit.

Seringnya, kisah-kisah yang saya tulis justru terinspirasi dari hal-hal sederhana. Sebutir jeruk, misalnya. Atau, kucing saya, si Uban. Atau, teman saya, Ayu. Atau, acara televisi tentang kompetisi memasak asal Australia. Tidak seru kedengarannya, ya. Tetapi, begitulah kenyataannya.

Berbeda dengan yang dipikirkan oleh banyak orang, ide tidak sulit didapat. Ya, ide memang harta karun, tetapi bukan harta karun yang langka. Kalau mau, kita bisa memilikinya begitu saja.

Oke, tidak ‘begitu saja’. Jelas, ada usaha yang harus dilakukan. Mendapatkan ide mudah, ide ada di mana-mana, dan setiap hal bisa menghasilkan ide; tetapi seseorang harus cukup peka untuk menangkap ide. Karena, ide seperti Golden Snitch. Dia terbang ke sana kemari dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Bagaimana agar kita peka? Berlatih. Sederhana. Akan saya bantu. Ada beberapa hal yang memancing kreativitas. Kata–atau kata-kata. Benda. Tempat. Gambar. Mari mulai dari empat hal itu.

Kata

Sebagian orang senang mendengarkan musik. Dan, sebagian musik mengandung lirik. Lirik adalah kata-kata. Kata-kata yang bercerita. Saat mendengarkan musik, pernahkah kamu membayangkan cerita dalam kata-kata itu? Kalau musik bukan kesukaanmu, bagaimana dengan kutipan? Ada banyak kutipan yang menggelitik. “The smartest thing a woman can ever learn is to never need a man”, misalnya. Perempuan macam apa yang berpikir demikian? Apa yang dialaminya? Apakah ada lelaki yang bisa membuatnya berubah pikiran? Hem, itu bisa menjadi sebuah cerita.

Benda

Ini saya pelajari di bengkel penulisan novel. Kami, para peserta, diminta menulis sebuah paragraf yang mengandung tiga kata benda ini: kucing, batu, siluman. Waktu kami lima menit. Setelahnya, kami diminta mengembangkan menjadi cerita pendek. Saya menghasilkan tiga paragraf berbeda saat itu. Itu berarti tiga cerita pendek.

Cobalah ini. Lihat mejamu, ambil satu benda, lalu bayangkan benda itu sesungguhnya bukan milikmu, melainkan milik seseorang yang kamu kenal sekilas di kereta. Cerita apa yang mungkin lahir dari ide itu? Lalu, coba benda lain dan situasi lain. Kamu akan punya setumpuk ide hanya dari benda-benda di mejamu.

Tempat

Setiap orang punya tempat-tempat spesial yang pernah dikunjungi–atau ingin dikunjungi. Tempat yang menyimpan kenangan atau impian. Pejamkan mata. Bawa dirimu ke tempat itu. Berpura-puralah menjadi malaikat. Kamu berdiri di sana menyaksikan sesuatu yang menarik, yang membuatmu tersenyum atau sedih atau marah. Ceritakan sesuatu yang menarik itu. Tulis.

Gambar

Jika kamu mudah merespon hal yang bersifat visual, cobalah gambar. Foto atau ilustrasi, terserah. Foto lama nenekmu, mungkin. Atau, sketsa yang kau lihat di Pinterest. Atau, papan iklan di pinggir jalan. Sering kali, dengan sendirinya gambar mengandung cerita. Kita tinggal mengembangkannya sesuka hati. Anggap saja gambar–terutama foto–merupakan sebuah momen kehidupan yang dikristalkan atau film panjang yang disetop di tengah-tengah. Jika waktu kembali berjalan–atau berputar ulang–apa yang terjadi terhadap objek dalam gambar? Cerita.

Nah, setelah tahu, kamu harus mencoba. Tidak hanya sekali. Tetapi, berkali-kali. Ulangi sesering mungkin. Semakin sering kita membiarkan diri bereaksi terhadap hal-hal di atas, kita akan semakin peka sekaligus semakin tangkas menangkap ide.
Buktikan sendiri. Jangan kalah melawan Golden Snitch.

Kiss,
W

Advertisements

4 thoughts on “Ideas, Where Art Thou?

  1. Aku sudah buktikan itu Kak Windry. Hehe…
    Aku paling sering dapat ide dari musik (kata) dan gambar. Dulu latihan bikin cerpen dari dua hal itu, terutama musik. Waktu mendengar musik dan membaca liriknya, adegan jadi lebih mudah terbayang. Dari situ akhirnya bisa lahir sebuah adegan yang menjadi dasar cerita.
    Novel pertamaku juga bisa lahir karena mendengar musik 😀

    Liked by 1 person

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s