Satu Jam yang Magis

french pink

74 hal. | Grasindo, 2014

Saya sedang membaca 1Q84. Tuhan tahu seberapa tebal buku Haruki Murakami itu. Di pertengahan bagian kedua, saya merasa membutuhkan udara segar dan ingin mengganti bacaan sejenak. Tidak boleh bacaan yang panjang karena saya tidak ingin meninggalkan 1Q84 terlalu lama. Tidak boleh terlalu rumit pula karena bisa-bisa nanti saya lupa pada apa yang terjadi terhadap Tengo dan Aomame.

Nah, pas sekali, Prisca Primasari baru saja merilis French Pink. Sebuah novella tujuh puluh empat halaman. Dan, sebenarnya saya sudah tertarik pada buku ini sejak obrolan kami di Malang pada akhir Oktober. Ketika itu, Prisca sedikit bercerita kepada saya mengenai buku ini dan hal-hal yang menginspirasi kisah di dalamnya: Jiyugaoka, sebuah distrik bernuansa Eropa di Tokyo, dan shinigami sang pencabut nyawa.

Lewat French Pink, Prisca mengajak saya mengikuti hari-hari Hitomi, seorang perempuan yang membuka sebuah toko pita di Jiyugaoka. Meskipun dikelilingi ratusan warna, Hitomi selalu muram. Kalau kata Prisca, “Lucu mengetahui bahwa seorang wanita muda bisa tampak layu di tengah-tengah ratusan pita.” Dahulu, Hitomi bisa mengenali dan menyebut warna apa pun dengan mudah. Kini, dia hanya tahu hitam. Dan, berkali-kali, dia berpikir mengenai kematian. Bagi Hitomi, hidupnya tidak lagi berguna.

Lalu, di depan sebuah toko pakaian–masih di Jiyugaoka, Hitomi bertemu dengan Hane, lelaki misterius yang berpakaian serbahitam dan matanya bercelak. Hane bertanya kepada Hitomi mengenai warna. Rupanya, lelaki itu hanya bisa mengenali putih dan hitam. Dan, lelaki itu mengetahui keinginan Hitomi untuk mati.

Hitomi menduga-duga, barangkali lelaki itu shinigami. Dia pun berusaha menghindar, tetapi mereka terus-menerus bertemu. Pada akhirnya, bersama Hane, Hitomi mengelilingi Jiyugaoka untuk mencari sejumlah benda dengan warna-warna tertentu. Perlahan-lahan, saya menemukan jawaban mengenai mengapa Hitomi selalu muram dan siapa sebenarnya Hane.

french pink2

Saya menuntaskan French Pink dalam satu jam. Buku ini tidak sempurna, tetapi satu jam yang saya lalui bersama Hitomi dan Hane terasa menyenangkan. Benar-benar menyenangkan.

Sejak halaman pertama, saya sudah tersenyum-senyum sendiri. Bukan merasa geli, melainkan asyik. Coba, penulis mana yang menghadirkan hal-hal semacam english lavender dan french pink dalam bukunya? Penulis mana yang mengenalkan kepada pembaca sosok lelaki yang menyerupai Hideto Takarai, mengoceh tentang Takeshi Kaneshiro dan Death Note? Saya, barangkali, Tetapi, itulah letak keasyikannya. Membaca French Pink seperti mengobrol lama dengan teman dekat yang punya banyak kesamaan.

Satu jam itu juga magis. Prisca Primasari menyuguhkan sesuatu yang jarang sekali ditemukan dalam fiksi-fiksi Indonesia. Saya tidak berbicara tentang kisah fantasi seperti Hobbit atau Harry Potter. Yang saya maksud adalah realisme magis seperti Midnight In Paris atau Be With You. Saya pernah berkata kepada Prisca, tulisannya seperti kisah yang dibekukan oleh waktu dan terjadi di suatu tempat yang asing. Meskipun dia menyebut Tokyo, bagi saya, itu adalah Tokyo-nya Prisca, dengan kondisi yang hanya ada pada rentang waktu khusus buatan Prisca pula. Barangkali, sejenis dengan Tokyo 1Q84 Haruki Murakami.

Jadi, untuk satu Jam, saya diculik oleh Prisca ke dunianya. Dan, di penghujung, saya menitikkan air mata. Pastinya, air mata bahagia. Bacalah French Pink, nanti kalian mengerti.

Kiss,
W

Advertisements

4 thoughts on “Satu Jam yang Magis

  1. Aku nggak nyangka bisa menemukan ulasan buku ini. Kovernya yang berwarna pink cantik, serta deretan huruf katakana yang tercetak di atasnya menarik perhatianku, tetapi belum yakin untuk membeli karena takut tidak sesuai ekspektasi.

    Membaca ulasan dari Kak Windry, sepertinya aku akan mempertimbangkan buku ini untuk dijadikan koleksi.

    Like

  2. …dan ini adalah buku Kak Prisca yang belum aku baca. Hmm… hardcover dengan 74 halaman ya? Menarik, selalu menyenangkan bisa membacanya dan berakhir sebagai kado untuk seorang teman editornya Kak Prisca yang mengenalkanku untuk membaca Paris, Evergreen, dll. Lagi-lagi disugesti untuk cepat membelinya >w<

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s