[Prisca Primasari] Magical Jiyugaoka

DSC00150

Saya menyukai toko mungil dan kafe cantik sama seperti saya menyukai cokelat. Yang berarti, sangat menyukainya. Tempat-tempat semacam itu mudah ditemui di Indonesia. Namun, sepengetahuan saya, belum ada kawasan yang full toko serta kafe cantik sejauh mata memandang.

Di Distrik Jiyugaoka-lah saya menemukannya. Sebelum menginjakkan kaki di Tokyo, saya telah mengantongi banyak informasi tentang distrik tersebut. Orang bilang, suasananya jauh berbeda dengan Shibuya atau Shinjuku. Dan, kalau ada setitik ketenangan di Tokyo yang sibuk itu, Jiyugaoka-lah tempatnya.

Untuk pergi ke sana, cukup naik kereta dua kali dari hostel saya di Minami-senju. Saya menikmati perjalanan dengan kereta Hibiya Line dan Tokyo Toyoku Line, sambil memandangi orang-orang yang sedang membaca, melamun, atau tertidur (sejujurnya, banyak yang tertidur :D).

Hanya ada dua pintu keluar di Stasiun Jiyugaoka. Pintu selatan serta utara. Saya tidak ingat melewati pintu mana—yang jelas, setelah keluar, saya langsung terpaku, ternganga, dan nyaris tidak memedulikan suhu 8 derajat yang menerpa saya.

Jiyugaoka melebihi ekspektasi saya. Lebih cantik dari yang saya bayangkan. Terdapat deretan toko kecil bergaya Eropa dengan dominasi warna cokelat, merah, atau hijau. Salah satu toko memajang maneken jerapah, yang seketika mengingatkan saya akan adik saya (karena lucu dan jangkung :D). Ada reklame bertuliskan ‘Rue Marie Claire’ dan bergambar bunga aster. Jalan-jalannya berpaving, mungil, bercabang-cabang.

Sadar dari keterpakuan, saya mulai melangkah sambil tak henti menoleh ke kanan dan ke kiri. Ada kedai bernuansa krem dan merah hati bernama Cath’s Café—menjual teh-teh Inggris. Lalu, kios paying berbagai motif, dengan kisaran harga 500 sampai 1500 yen. Ada toko-toko suvenir, toko cokelat bermerek Fave, toko pakaian bekas tapi masih sangat layak pakai, bridal shop, toko bakeri Gâteauxnaturels Shū, kafe Excelsior, toko cokelat Lindt. Jarang ada mobil yang lewat. Para pejalan kaki, sebaliknya, tersebar di mana-mana, menyusuri kelok-kelok jalanan kecil dengan santai.

DSC00175

DSC00161

DSC00130

Saya menyimpulkan, distrik ini memang tidak sama dengan Ueno yang ramai, atau Minami-senju yang senyap kelabu. Jiyugaoka… memukau. Bangunan-bangunan di sana seolah keluar dari buku-buku Astrid Lindgren, dan bahkan rel kereta apinya pun tampak magis. Yang janggal mungkin hanya kaokan burung-burung gagak. Meskipun begitu, kaokan tersebut sama sekali tidak mengurangi kecantikan Jiyugaoka.

Tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah kafe Sweet Forest. Karena payah membaca peta, saya tersesat beberapa kali. Menyusuri jalan yang sama terus-menerus, sampai saya menemukan Book-Off dan memutuskan masuk ke sana terlebih dahulu. Book-Off feels like heaven to me. Ribuan manga, buku-buku bekas, dan CD second hand berjajar rapi, dengan kisaran harga 105 sampai 500 yen. Saya membeli beberapa buku dan majalah dua jam kemudian—setelah galau memutuskan mana yang harus dibeli :D.

Pegawai kasir yang baik hati menunjukkan letak Sweet Forest pada saya. Dia mengantarkan saya sampai ke tempat tujuan. “Only five minutes (away),” katanya. Lima menit baginya berarti berjalan sangat cepat dan gesit, sementara saya mengikutinya sambil tersengal-sengal :D.

Sweet Forest sendiri ternyata sedikit di bawah ekspektasi saya. Mungkin karena saya telanjur terhipnotis kecantikan fotonya di internet, jadi wujud nyatanya tak lagi terlalu istimewa :D. Meskipun begitu, Sweet Forest akan membuat pencinta permen, kue-kue, dan panekuk merasa bahagia. Saya hanya memotret sebagian isi kafe, membeli teh hangat, lalu keluar. Beberapa meter kemudian, saya menemukan sitting area. Tepatnya di tengah outlet-outlet internasional ternama. Saya menikmati suasana mendung dengan duduk di salah satu bench.

DSC00136

Kalau tidak ingat hari sudah petang, saya akan terus duduk. Saya tidak akan bosan di sini sepanjang waktu. Dengan berat hati, saya melangkah kembali menuju stasiun, meskipun masih sempat-sempatnya tergoda mampir ke department store bernama Fullel With dan membeli sedikit oleh-oleh. Saya pun berhenti sejenak di kios payungtadi. Siapa yang tidak akan tergoda oleh nuansa pink, hitam-putih, renda-renda, dan motif-motif polkadot atau stripes-nya? Sayangnya, saya hanya bisa membeli satu buah (teringat small budget :D). Payung itu menjadi salah satu benda favorit saya sampai sekarang.

Sulit sekali melupakan Jiyugaoka, bahkan setelah saya berbaring nyaman dan selamat di kamar hostel. Lebih dari sekali, saya bertekad menjadikan distrik tersebut setting di novel selanjutnya. Dan begitulah awal mula kelahiran novella French Pink. Saya menulisnya pada Maret 2014, beberapa bulan setelah petualangan di Tokyo.

Saya berharap pembaca bisa mengenal Jiyugaoka lewat novella ini, meskipun dari sudut pandang berbeda. After all, saya berusaha tidak subjektif saat menulisnya, memosisikan diri sebagai Hitomi yang sudah tak peduli lagi pada warna-warna serta keindahan. But I really hope you enjoy it. Dalam French Pink pula, saya menyisipkan sesuatu yang baru-baru ini saja bisa saya pahami. Bahwa cinta sejati itu magis. Mampu menembus ruang dan waktu. 🙂

*

Kini, lebih dari setahun sejak solo-travelling saya. Saya berdoa bisa kembali lagi ke sana. Ke Jiyugaoka.

Itu salah satu dari sedikit tempat di mana kita nyaman menghabiskan waktu sendirian. Kita tidak akan merasa kesepian, tidak merasa sibuk, tidak merasa diburu-buru. Segala sesuatunya seolah melambat, tapi tidak membuat bosan. Pendeknya, kita terlena, bersemangat untuk terperangkap di dalamnya, dan tidak ingin keluar lagi.

Untuk alasan itulah, saya menyebutnya ‘Magical Jiyugaoka’. ^^

-Prisca-


DSC00101Prisca Primasari adalah penulis French Pink, Priceless Moment, dan Paris: Aline. Mempunyai banyak mimpi yang belum diwujudkan. Menyukai hal-hal yang suram, absurd, komikal, tetapi manis. Prisca bisa dikunjungi di Twitter @priscaprimasari, Instagram @priscaprimasari, dan blog priscaprimasari.tumblr.com.

Advertisements

7 thoughts on “[Prisca Primasari] Magical Jiyugaoka

  1. …. dan saya selalu terpaku ketika membaca tulisan Kak Prisca. Seperti dongeng. Selalu magis. Entah dalam novel atau hanya catatan petualangan seperti ini. ❤

    Jiyugaoka. Distrik ini jarang saya dengar ketika masih sangat menggeluti dunia anime dan manga. Pertama kali saya dengar justru dari karya Kak Prisca. Distrik ini sendiri mengingatkan saya pada London–well, saya belum pernah ke London, tapi Mbak Windry dalam London: Angel memberikan kesan magis yang sama seperti catatan Kak Prisca dan foto-foto di atas.

    Toko-toko mungil yang cantik, jalan berpaving, aroma lezat, dan tanpa kendaraan bermotor. Saya harap bisa melihatnya. Bukan hanya di Jepang, tapi di negeri ini. Semoga.

    Terima kasih telah berbagi catatan perjalanannya yang magis, Kak Prisca! 😀

    Like

  2. Jiyugaoka ya ? Saya bahkan baru tahu nama kota itu. Informasi yang sangat bermanfaat untuk siapapun yang mau ke Jepang dan merindukan suasana yang tidak ramai tapi tidak pula senyap kelabu nih^^ Jadi pengen ke Tokyo #Eww…

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s