Mengintip Timbunan Buku Ijul

me in the library bandung
Ijul di ZOE Bandung

Pembaca-pembaca novel populer tentu mengenal Ijul sang pemilik blog Fiksi Metropop. Resensi-resensinya sering dijadikan referensi dalam memilih bacaan. Kegiatan membaca pun menjadi lebih asyik dengan berbagai kegiatan yang dia adakan.

Saya sendiri mengetahui nama dan blog Ijul sejak lama, tetapi baru satu tahun belakangan ini punya kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi langsung dengannya. Sebagai pembaca, saya pribadi mengagumi Ijul. Saya selalu takjub akan semangat Ijul dalam membaca, meresensi, dan menjalankan blog. Dan, saya punya sejumlah pertanyaan tentang dirinya.

Karena itu, saya terpikir untuk mengajaknya mengobrol di Taste Life Twice. Saya dan Ayu memang ingin menampilkan profil sejumlah pembaca. Jadi, Taste Life Twice tidak melulu membahas siapa yang ada di balik proses pembuatan buku, tetapi juga siapa yang menikmati buku tersebut. Menurut kami, sudah waktunya pembaca menjadi sorotan di dunia buku.

Nah, siap mengobrol bersama saya dan Ijul?

Saya: Apa kabar, Ijul? Pembaca kami ingin berkenalan lebih jauh denganmu. Bisa ceritakan sedikit tentang dirimu dan kesibukan apa saja yang kamu kerjakan beberapa tahun belakangan?

Ijul: Alhamdulillah, kabar baik. Hai, saya Ijul. Sehari-hari berprofesi sebagai pegawai negeri sipil yang dikejar jam ngantor dari pukul setengah delapan pagi sampai dengan pukul lima sore. Itu pun kalau enggak ada lemburan. Sesekali saya juga menyunting naskah atau memeriksa aksara sebagai pekerja lepas. Tapi, sebagian besar waktu di luar bekerja saya habiskan dengan membaca, meresensi, dan membaca lebih banyak buku.

Saya: Bagi seorang Ijul, apa sih membaca itu?

Ijul: Membaca adalah rekreasi dari segala kejenuhan rutinitas yang saya jalani sehari-hari. Buat saya, buku adalah tempat mengadu dan melarikan diri ketika tak ada siapa pun yang bisa diajak berbagi kesumpekan pikiran.

Saya: I see. Book is your escape. Biasanya berapa buku yang kamu baca dalam satu bulan? Berapa rekor terbaikmu?

Ijul: Hmm, berapa, ya? Kecepatan membaca saya sudah makin menurun beberapa tahun belakangan, ditambah lagi distraksi dari gadget, media sosial, dan bioskop. Untuk buku setebal 300-an halaman, saya butuh tiga-empat hari menyelesaikannya padahal dulu itu bisa diselesaikan dalam hitungan jam. Sekarang, kurang lebih tujuh buku untuk sebulan. Rekor terbaik saya kurang lebih dua puluh buku.

Saya: Wow. Dua puluh buku itu, barangkali, bacaan saya selama setengah tahun. Boleh tahu tipe buku yang paling kamu sukai? Sejak kapan kamu tertarik? Dan, bagaimana awalnya? Pengalaman pertama selalu tidak terlupakan.

Ijul: Fiksi. Apa pun tentang fiksi. Saya suka berkhayal dan tersesat dalam dunia rekaan. Kalau dari genre, saya menyukai romance yang ringan-ringan saja. Prinsip saya, sih, pikiran sudah dibuat keriting di kantor, jadi saya pengin dibawa rileks ketika membaca, dan komedi romantis yang sepertinya “enggak-banyak-mikir” cocok jadi bacaan favorit saya. Tapi… jangan pernah meremehkan novel romance, sebagian besar pengalaman hidup saya beberapa tahun belakangan ikut dipengaruhi novel-novel romance yang saya baca. Dan, saya mensyukurinya.

Awal suka membaca, saya menjadi korban booming komunitas menulis Forum Lingkar Pena yang dimotori Asma Nadia sekitar tahun 2002-an. Saya tergila-gila membaca apa saja yang ditulis oleh Asma Nadia atau penulis dari FLP lainnya. Setelah itu, bacaan saya semakin luas tapi masih dalam genre yang sama yaitu yang cenderung ringan.

Saya: Ya, saya rasa, dulu kita semua tergila-gila kepada Asma Nadia. Nah, apakah kamu punya tempat dan suasana favorit untuk membaca?

Ijul: Tidak ada tempat atau suasana favorit untuk membaca. Tapi, saya menjadi sangat fokus membaca ketika dalam perjalanan (naik kendaraan) atau sedang… di toilet, hehehe. Dan, yang paling mengasyikkan adalah membaca sambil mendengarkan musik. Membaca di tempat bising? Saya bisa melakukannya.

Saya: Bagaimana kamu meresensi buku-buku yang kamu baca? Apa hal-hal yang menurutmu paling penting untuk kamu bahas?

Ijul: Menurut saya, resensi merupakan suatu cara berbagi rasa dengan teman sesama pembaca. Adalah pelajaran bahasa Indonesia di tahun kedua SMA yang paling saya ingat tentang resensi buku. Bahwa resensi merupakan sebuah pernyataan tertulis tentang kesan yang kita dapatkan selama membaca sebuah buku yang secara garis besar merangkum kelebihan dan kekurangan buku tersebut. Pengetahuan itu saya yakini dan saya pegang hingga saat ini.

Pokok terbesar dari sebuah resensi adalah apa yang tertinggal di dada ketika kita menutup lembar halaman terakhir sebuah buku. Apakah kita menikmati kalimat demi kalimat yang dirangkai penulisnya? Apakah kita ikut terhanyut dengan ceritanya? Dan, sejauh apa kita terseret oleh arus yang diciptakan penulisnya? Kesan itu lalu dilengkapi dengan catatan-catatan kelebihan atau kekurangan buku tersebut, baik dari segi teknis maupun non teknis. Saya berusaha membahas plot, karakter, diksi, orisinalitas, sampai dengan kualitas cetakan (khusus buku cetakan) yang terkait tata letak, kover, hingga kesalahan ketik (typo).

Saya: Ini pertanyaan terbesar saya. Sebanyak apa koleksi bukumu? Saya ingin mendengar jumlah, angka. Dan, boleh saya mengintip lemari/ rak bukumu?

Ijul: Engg… engg… boleh tidak saya skip pertanyaan ini? Hahaha. Saya khawatir rahasia saya sebagai penimbun-buku-yang-sukanya-belanja-bacanya-kapan-kapan akhirnya terbongkar.

Saya: Wah, tidak boleh. Ayo, dijawab.

Ijul: Secara jumlah, saya belum sempat mendata angka pastinya. Biasanya ketika ditanya soal “koleksi”, saya jawab, “Baru 17 kontainer baju ukuran 70 liter, kok,” sambil nyengir.

timbunan 1
Timbunan buku koleksi Ijul
timbunan 2
Dan, masih banyak timbunan lainnya!

Saya: Tentang Fiksi Metropop, bisa cerita sedikit tentang latar belakangnya dan apa-apa saja yang kamu share lewat blog tersebut?

Ijul: Karena preferensi bacaan yang lebih ke fiksi bergenre komedi romantis, ketika berkunjung ke toko buku saya cenderung langsung menuju rak novel lalu mengamati satu per satu novel yang berjajar manis di sana sebelum mencomotnya. Suatu waktu di tahun 2004, ketika saya mulai jenuh dengan bacaan keluaran FLP yang temanya itu-itu saja, saya mulai berkenalan dengan Cewek Matre Alberthiene Endah. Tak ada ekspektasi di awal membaca, tapi setelah selesai membaca saya terserang semacam hangover. Saya enggak bisa move on dengan cepat setelah membaca novel itu, sehingga saya memutuskan untuk mencari lagi novel dari pengarang yang sama dan novel lain yang bergenre sejenis. Dari situlah saya mulai tergila-gila dengan novel-novel metropop.

Berangkat dari kesukaan pada novel itu, dan sepertinya belum ada blogger buku yang memfokuskan diri membahas dan meresensi novel metropop, saya membuat akun Facebook Metropop dan selanjutnya membuat blog yang sebagian besar isinya membahas novel-novel metropop. Namun demikian, seiring makin berkembangnya dunia penerbitan buku Indonesia, blog www.fiksimetropop.com juga kerap membahas buku-buku yang senapas, tidak hanya yang berlabel metropop terbitan Gramedia saja. Misalnya saja Amore, teenlit, atau novel-novel bergenre romance terbitan Gagasmedia, Bentang Pustaka, Stiletto Books, Haru, dan lain sebagainya.

Saya: Saya melihat Fiksi Metropop punya beberapa kegiatan seru. Yang paling saya sukai adalah Top Ten Tuesday. Saya penasaran saja, sih? Kenapa Selasa?

Ijul: Sebenarnya Top Ten Tuesday merupakan meme dari blogger buku lain, yaitu The Broke and The Bookish, bukan kreasi dari saya. Sudah terdapat panduan dan serangkaian tema yang akan dibahas setiap hari Selasa. Oleh karenanya, saya sendiri kurang paham apa yang melandasi pemilihan hari Selasa sebagai hari mem-posting sepuluh hal tentang tema-tema yang terkait dengan buku.

Saya: Lalu, akan ada kegiatan apa nih di Fiksi Metropop dalam waktu dekat? Ada yang baru? Atau, kejutan seru?

Ijul: Dalam waktu dekat belum ada kegiatan besar yang akan diselenggarakan, sih. Untuk yang rutin, saya ingin lebih sering mengadakan #BacaBarengMinjul atau disingkat BBM yaitu event baca bareng admin @fiksimetropop dengan teman pembaca dua kali dalam sebulan. Tahun 2014 yang lalu, hanya sempat menyelenggarakan tak lebih dari 7 kali BBM. Dan, yang juga ingin lebih diperbanyak lagi adalah rubrik Wisata Buku. Akan ada waktu-waktu tertentu untuk meliput tempat-tempat hunting buku yang pernah saya datangi.

Sebenarnya, salah satu cita-cita terbesar saya adalah membuat semacam festival atau event yang menghadirkan para pengarang novel romance dalam satu tempat untuk menunjukkan bahwa eksistensi novel-novel romance itu ada dan ikut mewarnai keseharian kita. Tujuan utamanya sih untuk menghilangkan stigma yang menganggap novel romance “nggak ada isinya” pada sebagian orang yang masih memandang sebelah mata novel-novel romance. Semoga bisa segera terealisasikan. Aamiin.

Saya: Amin. Terakhir, nih, apa harapan kamu pada dunia buku Indonesia?

Ijul: Banyak, hehehe. Tapi harapan utama saya pada dunia buku Indonesia adalah terus meningkatnya minat baca orang Indonesia dari tahun ke tahun. Dan, hey, do not ever underestimate a romance book. Judge by your feeling not your assumptions.

Nah, itu tadi obrolan kami. Saya, jujur saja, terinspirasi dan menjadi sangat bersemangat untuk semakin sering membaca dan berbagi. Semoga teman-teman juga demikian. Dan, sebenarnya, Taste Life Twice mempunyai cita-cita yang serupa dengan kepunyaan Ijul: mengumpulkan penulis dengan pembaca. Siapa tahu kami bisa bekerja sama. Bagaimana, Ijul? Hehe.

Saya juga setuju untuk tidak meremehkan novel-novel bergenre romance. Bukan karena saya penulis novel romance. Tetapi, karena saya percaya cinta adalah hal paling besar dan tidak akan pernah usang untuk disebarkan lewat tulisan. Karya-karya sastra paling tua pun berkisah tentang cinta.

Oke, terima kasih banyak, Ijul, untuk obrolannya. Tetap berbagi dan menginspirasi, ya. Sukses selalu untukmu dan Fiksi Metropop.

Kiss,
W

Advertisements

7 thoughts on “Mengintip Timbunan Buku Ijul

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s