Writing in Space and Time

IMG_20141010_091840

Seringnya, saat menulis–novel atau cerpen, kita tidak berpikir terlalu banyak mengenai waktu dan ruang. Dua hal tersebut kita jadikan elemen sekunder dalam cerita, sekadar latar belakang. Kita membiarkan keduanya bergerak mengikuti perkembangan konflik secara pasif.

Tetapi, sebenarnya, waktu dan ruang bisa lebih dari sekadar latar belakang. Waktu dan ruang bisa menggigit, bisa menjadi elemen penting yang memengaruhi elemen-elemen lain.

Barangkali, kalian sudah tahu. Atau, paling tidak, menemukan hal tersebut dalam sebuah buku. Tidak sedikit penulis yang menggunakan pergerakan waktu dan ruang untuk menciptakan struktur dan kesatuan cerita. Mereka fokus pada periode atau tempat tertentu. Ini memberi mereka keuntungan. Ketegangan hadir secara lebih dramatis.

Sesekali, kita perlu mencoba menantang diri untuk menulis cerita yang hanya berlangsung selama satu hari. Cerita diawali pada pagi, diakhiri saat malam. Seperti Before Sunrise, salah satu contohnya. Lelaki Amerika bertemu dengan perempuan Prancis di kereta, lalu memutuskan untuk berhenti di Wina dan melihat-lihat kota sepanjang sore dan malam. Mereka berpisah di stasiun keesokan paginya.

Jika, satu hari terlalu padat, kita bisa renggangkan waktunya dan menulis cerita yang berlangsung selama satu minggu, seperti yang saya lakukan dalam London: Angel; atau satu musim, seperti The Great Gatsby.

Kita akan menemukan sesuatu yang berbeda. Konflik yang berbeda. Karena, kali ini, waktu yang memegang kendali, bukan sebaliknya.

Lebih jauh lagi, posisikan tokoh kita dalam situasi sulit yang berkaitan dengan waktu. Pernah menonton Janji Joni? Sebelum pita film bagian pertama habis diputar di bioskop, Joni harus segera mengantar pita film bagian kedua. Ini ketegangan yang saya maksud tadi.

Nah, bagaimana dengan ruang? Ada banyak yang bisa kita eksplorasi dari elemen yang satu ini. Bayangkan. Cerita yang kita tulis terjadi di suatu tempat kusus–dan hanya di tempat itu. Semakin sempit ruang yang kita pakai, proses menulis akan semakin menantang.

The Terminal adalah salah satu cerita tipe ini yang paling saya sukai. Viktor Navorski terjebak di Bandara Internasional JFK karena negaranya mengalami revolusi. Dia tidak bisa keluar karena negaranya tidak lagi dikenali oleh dunia. Tanpa negara, paspornya tidak berlaku. Dia juga tidak bisa kembali ke negaranya karena semua penerbangan ke sana dibatalkan. Adegan-adegan melibatkan kegiatan-kegiatan yang terjadi di bandara dan orang-orang yang bekerja di sana. Menarik sekali, menurut saya.

Ada juga French Pink yang keseluruhan ceritanya berlangsung di Jiyugaoka, sebuah distrik di Tokyo, Murder on the Orient Express yang bercerita mengenai pembunuhan dan penyelidikan di kereta, The Strange Library Haruki Murakami, dan masih banyak lagi.

Bayangkan juga cerita yang berlangsung dari satu titik ruang ke titik berikutnya. Seperti Eat Pray Love atau Traveler’s Tale. Sesuatu yang penting dalam kehidupan si tokoh terjadi dalam perjalanan. Dalam perjalanan, dia mengalami peristiwa yang berkesan, tidak terduga, atau mengubah kehidupannya.

Sebuah kejadian, situasi, acara–event–pun bisa menjadi struktur cerita. Sebut saja pernikahan, pemakaman, kelahiran, liburan, studi wisata. Semua itu pemicu konflik yang kaya. Banyak orang berkumpul kala itu, masing-masing masalahnya sendiri-sendiri. Banyak kenangan muncul kembali, yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Banyak kebahagiaan. Banyak pula kesedihan. Ada orang-orang baru, juga orang-orang dari masa lalu. Kalau dipikir-pikir, tidak terbatas cerita yang bisa kita gali.

Kita bisa bermain dengan sejarah. Novel Pulang Leila S. Chudori mengambil kejadian tahun 1966 dan 1998 yang merupakan peristiwa penting di negara kita. Novel-novel Hemmingway banyak menyinggung perang dunia. Love in the Time of Cholera terjadi pada masa kolera sedang mewabah di, sekaligus mengibaratkan cinta sebagai penyakit tersebut.

Saya sendiri berkeinginan menulis cerita yang mengambil latar belakang tertentu yang berkaitan dengan sejarah. Memang tidak mudah. Ada banyak riset yang harus dilakukan. Tetapi, sesekali, seorang penulis harus melakukan itu. Menyimpan sejarah dalam cerita rekaannya. Agar kita tidak melupakan sejarah.

Bagaimana dengan kalian? Ingin mencoba salah satu ide di atas? Mari menulis bersama waktu dan ruang.

Kiss,
W

Advertisements

3 thoughts on “Writing in Space and Time

  1. Aku suka banget The Terminal. Awalnya aku pikir ceritanya akan membosankan karena ada di setting tempat yang sama, tapi ternyata malah jadi menarik. Aku nggak sangka kalau kehidupan di bandara ternyata seru juga xD

    Ide seperti di atas memang seru untuk ditulis. Cuma ya seperti The Terminal tadi (dan beberapa contoh cerita lainnya), si penulis harus bisa menemukan hal yang menarik dari keterbatasan tempat/waktu yang mereka punya supaya si pembaca nggak bosan.

    Kalau aku sih baru bisa bikin mempraktekkan ide ini di cerpen karena cerpen memang mempunyai ruang yang terbatas. Kalau novel kayaknya belum berani. Hehe…

    But I’ll try this idea one day. Thanks for the inspiration. Wish me luck 😀

    Like

  2. Iya, Kak. Menulis dengan ruang dan waktu yang khusus, memang menantang. Saya suka dengan novel tetralogi (sekarang masih trilogi) De Winst dari Afifah Afra, yang bercerita tentang zaman Hindia Belanda 🙂
    Semoga Kak Windry dan Kak Ayu segera menulis novel dengan ide postingan di atas 🙂

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s