Cerita di Balik Kesalahan Ketik

typo

Beberapa hari lalu, di Twitter, saya dan beberapa teman sedikit membahas kesalahan ketik. Kami sering menemukan hal tersebut di buku-buku Indonesia. Pasti kalian juga.

Kesalahan ketik terkesan sepele. Saya pribadi menganggap satu-dua kesalahan ketik di sebuah buku merupakan sesuatu yang wajar. Manusiawi. Bahkan, Joko Pinurbo pernah berkata, barangkali seumur hidupnya, seorang penulis tidak akan mendapati bukunya tanpa kesalahan ketik.

Tetapi, kesalahan ketik yang muncul terlalu banyak dalam sebuah buku akan mengganggu keasyikan membaca. Beberapa orang tidak peduli. Sebaliknya, pembaca-pembaca cerewet seperti saya–yang memiliki kecenderungan OCD–akan langsung menutup buku tersebut dan tidak mau membukanya lagi.

Sebagai penulis, saya masih bermimpi menerbitkan buku tanpa kesalahan ketik–meskipun barangkali itu mustahil. Saya masih berusaha. Sekarang, sebagai penulis, saya ingin bercerita mengenai kesalahan ketik. Mengapa itu terjadi. Siapa yang menyebabkan itu terjadi. Dan, bagaimana seharusnya kesalahan ketik di sebuah buku bisa dikurangi.

Tersangka utama, tentu saja, adalah penulis. Biasanya, tidak akan–atau jarang–ada kesalahan ketik di sebuah buku jika naskah aslinya bersih. Di beberapa kasus, berbeda. Tetapi, itu saya ceritakan nanti. Nah, penulis banyak tersandung apabila dia: 1) terburu-buru saat menulis, 2) tidak mengedit naskahnya sebelum diserahkan ke penerbit, 3) kurang teliti, 4) salah memahami ejaan, 5) tidak peduli.

Ada penulis yang senang bercerita, tetapi kurang tekun mempelajari bahasa. Biasanya, penulis pemula–walau ada juga penulis lama yang begini. Mereka terlalu bersemangat menerbitkan buku dan tidak sabar melihat karya mereka dipajang di rak toko. Padahal, mereka penulis. Bahasa adalah alat mereka. Bagaimana mereka bisa bercerita secara maksimal dengan bahasa yang sekadarnya?

Ada juga yang berharap terlalu banyak kepada editor. Pikir mereka, pasti editor akan menemukan dan memperbaiki kesalahan ketik di naskah mereka. Editor toh lebih paham. Tetapi, bagaimana jika editor tidak menemukan dan memperbaiki kesalahan ketik di naskah tersebut? Lebih parah lagi, bagaimana jika editor tidak lebih paham? Lagi pula, sehebat apa pun editor, dia sama dengan penulis. Manusia.

Itu sebabnya ada proofreader. Orang ini, proofreader, seperti penjaga gawang. Dia pertahanan terakhir terhadap kesalahan ketik. Dia yang memeriksa naskah yang akan naik cetak. Naskah yang telah ditata diserahkan kepadanya untuk dicek. Apa yang dia cek? Kesalahan ketik yang terlewat oleh editor dan kesalahan lain yang disebabkan tata letak.

Dengan begini, diharapkan, buku bisa terbit sempurna. Tetapi, proofreader juga manusia. Sama dengan editor. Sama dengan penulis. Memang sebaiknya, sebelum pergi ke penerbit, penulis sudah memastikan naskahnya bersih atau paling tidak minim kesalahan ketik.

Di kasus tertentu, naskah yang telah bersih tetap bisa memiliki kesalahan saat terbit menjadi buku. Setelah diedit, naskah ditata letak. Dalam proses ini, terkadang penata letak secara tidak sengaja menghapus atau menambah huruf atau kata. Oke, anggap saja proofreader menemukan kesalahan tersebut. Dia akan menandai kesalahan tersebut dan meminta penata letak memperbaikinya.

Tetapi, proofreader di beberapa penerbit kerap bertindak seperti editor. Dia memberi catatan revisi. Sehingga, naskah yang telah ditata letak harus dikembalikan kepada penulis untuk direvisi. Hasil revisi diserahkan lagi nantinya kepada penata letak. Hal semacam ini bisa memunculkan banyak kesalahan di buku. Padahal, naskah sudah melewati proses proofreading. Mau tidak mau, proses itu harus diulangi. Siapa yang bisa menjamin penata letak tidak keliru menyelipkan revisi? Penata letak adalah desainer, bukan penyunting bahasa.

Jadi, urusan kesalahan ketik ini rumit. Tidak bisa ditentukan begitu saja siapa yang salah. Tetapi, saya berpikir, buat apa mencari-cari siapa yang salah? Ini, kan, karya penulis. Ini hasil kerja kerasnya berbulan-bulan. Seperti apa pun situasi di proses pracetak, penulis adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kesempurnaan bukunya sendiri.

Dia harus: 1) menulis secara berhati-hati, 2) mengedit naskahnya dengan benar, 3) teliti, 4) memahami ejaan, 5) peduli penuh.

Jelas, kemampuan berbahasa adalah hal yang harus terus ditingkatkan penulis. Dengan begitu, dia bisa bekerja sama dengan editor. Penulis dan editor adalah rekan. Sah-sah saja jika penulis memeriksa hasil kerja editor dan–jika perlu–mengoreksi. Saya sendiri selalu berdiskusi dengan editor. Dan, editor saya selalu bertanya apakah saya bersepakat dengannya atau tidak.

Lalu, sebaiknya penulis ikut serta dalam proses proofreading. Penulis perlu melihat sendiri seperti apa naskahnya dikemas sebelum naik cetak. Tidak perlu sungkan. Penulis berhak–di kontrak saya bahkan wajib. Ini kesempatan terakhir bagi penulis untuk memastikan bukunya sempurna. Lagi pula, proofreader pasti senang mendapat tenaga bantuan.

Sekali lagi, ini karya penulis. Dia yang paling memahami isi naskahnya. Nama dia yang dijual di pasaran, bukan nama editor atau penerbit.

Kiss,
W

Advertisements

8 thoughts on “Cerita di Balik Kesalahan Ketik

  1. Wah, bener banget, Mbak. Saya punya pengalaman untuk keduanya. Sebagai penulis, kadang setelah revisi ampe lebih dari lima kali pun masih tetep aja ada typo yang kelewatan. Dan rasanya malu dan bersalah banget waktu para pembaca yang teliti dan jeli berkomentar tentang hal ini.

    Sedangkan sebagai freelance editor, permasalahan biasanya terjadi karena alasan nomor 2 dan 5. Naskahnya nggak diedit sebelum diserahkan ke penerbit atau si penulis sendiri nggak paham masalah EYD dan tanda baca. Alasan nomor 2 itu yang paling parah karena waktu ngedit rasanya malah kayak nulis ulang naskahnya si penulis, di tiap kalimat ada aja kesalahan. Seperti yang Mbak bilang, kebanyakan penulis pemula menganggap “Ah, masalah begituan kan urusannya editor”. Yang paling parah, misalkan saat proses revisi, naskah telah selesai di-proofreading dan diserahkan kembali pada penulis untuk mengecek apakah ada yang kurang, penulis yang tidak peduli dan tidak paham sama sekali dengan hal-hal teknis ini biasanya cuma iya-iya aja, nggak tahu apa yang salah, dan akhirnya kacaulah naskah yang kemudian sampai di tangan pembaca dalam bentuk novel.

    Trus pengalaman saya juga, Mbak, pas bagi-bagi ilmu tentang EYD dan tanda baca, kebanyakan penulis, terutama pemula, malah ngeyel dengan bilang kalau yang penting itu nulisnya dulu dan diterbitkan. Motonya, “semua orang bisa nulis, bagus atau tidaknya urusan belakangan. Masalah teknis itu urusan editor karena untuk itulah mereka dibayar”. Ini dikarenakan yang dikejar cuma prestise ngeliat nama majang di sampul buku. Sedangkan, seperti Mbak bilang, editor juga manusia. Dan semua tanggung jawab ada di penulis, karena merekalah yang punya karya.

    Like

    1. untuk menghadapi penulis pemula yang pengetahuannya masih kurang, menurutku, editor harus lebih sabar dan mengajari mereka. capai di awal, tetapi akan lebih ringan di naskah-naskah selanjutnya. nah, untuk menghadapi penulis ngeyel, mungkin editor harus lebih tegas dan kejam. kalau dibiarkan, takutnya semakin sulit diajak kerja-sama.

      Like

  2. Ada juga yang bukunya udah cetakan kesekian, udah berkali-kali disebut juga oleh pembaca kalau ada kesalahan, eeh.. pas cetakan terbaru keluar, tetap aja kesalahannya masih ada. Sejujurnya saya bingung sih, kalo cetak ulang harusnya dicek lagi atau nggak sih naskahnya? Hehe.. Tau buku dimaksud, Mbak?

    Like

    1. hehe buku apa? banyak lah pasti. ini tergantung penulis dan editor sih. seharusnya, begitu cetakan pertama keluar, penulis dan editor mengecek hasilnya, lalu menandai kesalahan cetak–kalau ada. jadi, begitu ada berita cetak ulang, langsung kirim file baru ke percetakan. kalau nggak ada berita cetak ulang ya sudah haha. minimal penulis dan editor tahu kekurangan buku mereka dari segi cetak.

      Like

  3. iapz…
    sebagai penata letak dan desainer buku, yang paling menjengkelkan adalah ketika buku yang telah disunting akhir dan ditata letak, bahkan sudah dipracetak, masih terdapat kesalahan ketik. Akhirnya kami, para penata letak harus memperbaikinya lagi, atau yang paling parah, menata letak kembali T_T. Padahal penata letak seringkali menjadi garis produksi terakhir sebelum naik cetak dan yang paling dikejar-kejar oleh tenggat penerbitan. Apalagi jika tanggal penerbitan buku tersebut sudah harga mati. Like a hell…jadi kemungkinan besar terjadi salah ketik sangat besar. Jujur saja, awal mulanya jika ada ejaan yang keliru, penulisan kata depan dan imbuhan yang ertukar atau sejenisnya, sebagai penata letak saya biarkan saja. Toh, saya dibayar untuk menata letak bukan untuk menyunting.
    Tapi, lama-lama kok rasanya ngganjel dan ternyata tata letak tulisan yang salah ketik seringkali janggal dan tidak nyaman secara desain.
    Gara-gara itu pula, saya jadi sadar, seorang desainer dan penata letak buku sedikit banyak harus menguasai dasar-dasar penulisan. Tak perlu ahli, tapi harus tahu.

    Kini, biasanya saat proof paling akhir sebelum naik cetak saya mengajak (bahkan mewajibkan) penulis dan editor untuk duduk bersama di layar komputer. Jika ada kesalahan ketik atau semacamnya bisa dibetulkan saat itu juga. Jika masih ada yang salah? namanya juga manusia :p

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s