Kita Dalam Film

Selamat Hari Buku Sedunia!

Ini 23 April. Tetapi, entah mengapa saya justru berpikir untuk menulis sesuatu tentang kita. Bukan tentang buku. Kita, pencinta buku dan kata. Dan, saya ingin membahas beberapa film yang sangat dekat dengan obsesi kita. Mengapa film? Selain membaca, saya juga menonton. Bahkan, sebagian tulisan saya terinspirasi dari film karena pada dasarnya saya mudah tergugah oleh hal-hal yang sifatnya visual.

Nah, terkadang, saya menemukan diri saya dalam film-film yang saya tonton. Beberapa di antaranya sangat saya sukai. Ini film-film tersebut, barangkali sama dengan daftar kesukaan kalian.

Dead Poets Society

Dead Poets Society
Oke, ini yang pertama. “O Captain! My Captain!” Setiap menyaksikan Ethan Hawke dan kawan-kawan meneriakkan sebaris puisi itu, saya terharu. Satu per satu, mereka naik ke atas meja belajar mereka di kelas untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Robin Williams, guru bahasa mereka yang dikeluarkan dari sekolah karena dianggap menyebabkan murid-muridnya memberontak dari keinginan orangtua.

Dari sang guru, mereka belajar mencintai puisi dan terinspirasi untuk memperjuangkan hal yang mereka inginkan dalam hidup sekuat tenaga. Lalu, mereka membentuk Dead Poets Society. Secara rutin, pada malam hari, mereka pergi ke sebuah gua untuk membaca puisi bersama–terkadang sambil merokok, memainkan alat musik, dan memikat gadis. Perlahan-lahan, mereka pun berubah. Mereka menjadi bersemangat dan hidup, lepas dari perangkap model murid sempurna.

The Jane Austen Book Club

Jane Austen Book Club

Di The Jane Austen Book Club, lima perempuan dan satu lelaki berkumpul setiap bulan untuk membahas satu buku Jane Austen. Keenamnya berbeda karakter. Masing-masing memiliki kisah sendiri-sendiri. Ada yang sedang jatuh cinta. Ada yang menolak cinta. Ada yang baru bercerai. Ada pula yang merasa pernikahannya berubah dingin. Semua bercampur aduk.

Saya kagum dengan penulis skenarionya yang menghadirkan macam-macam konflik cinta, lalu menghubungkannya dengan buku-buku Jane Austen. Konfilk-konflik itu pun pada akhirnya selesai berkat pengaruh Mister Darcy, Elizabeth Bennet, George Knightley, dan Mary Crawford. Tetapi, memang seperti itu bukan? Kita–pembaca–kerap mendapatkan pelajaran berharga dari buku. Dan, saya berharap suatu hari bisa punya klub buku seperti ini. Ada yang mau bergabung dengan saya?

You’ve Got Mail

You ve Got Mail

Ini film yang menyenangkan. Saya menginginkan kehidupan Kathleen Kelly. Sungguh. Memiliki sebuah toko buku, membacakan cerita untuk sekumpulan anak kecil, bertengkar dengan lelaki dari toko buku saingan di seberang jalan, lalu jatuh cinta kepadanya. Manis, kan? Setelah itu, kami akan hidup bersama sampai tua, dikelilingi buku, dan sepanjang waktu membahas cerita.

Saya belum menemukan lagi film dengan latar belakang toko buku yang kuat seperti You’ve Got Mail. Atau, mungkin, saya pernah menemukannya tetapi lupa. Tetapi, yang jelas, film yang satu ini melekat kuat dalam ingatan saya.

Stranger Than Fiction

Stranger Than Fiction

Kita semua pasti pernah berpikir, barangkali kita adalah karakter dalam sebuah novel. Nah, Stranger Than Fiction membawa konsep itu ke hadapan kita. Harold Crick adalah lelaki membosankan yang terjebak rutinitas. Dia seperti robot. Semua hal yang dilakukannya berdasarkan alarm arloji. Sampai suatu ketika, dia menyadari bahwa dirinya adalah karakter dalam novel tragis. Menurut narasi penulis yang suaranya kerap didengar oleh Harold Crick dalam kepalanya, dia akan mati tidak lama lagi.

Ini film lucu dengan twist asyik, karakter yang jauh dari mainstream, dan detail-detail menarik. Ada penulis yang digambarkan dengan cara yang saya sukai. Ada pula toko kue yang menyisipkan rasa hangat di tengah-tengah komedi. Film ini membuat saya membayangkan karakter-karakter yang saya tulis. Bagaimana kalau mereka benar-benar hidup dan mengalami kisah sesuai rekaan saya? Tentu, tidak mungkin. Tetapi, tetap saja. Bagaimana kalau Kai Risjad dan Samuel Hardi benar-benar ada? Hem, saya pasti akan berlari ke pelukan mereka.

Midnight In Paris

Midnight in Paris

Last but not least! Saya sangat menyukai film Woody Allen ini. Saya suka setiap bagian, setiap dialog. Indah. Romantis. Liar. Lucu. Magis. Semua jadi satu dalam Midnight In Paris. Film ini bercerita tentang Gil, penulis yang merasa dirinya terlambat lahir seratus tahun. Baginya, masa emas manusia adalah 1920-an, masa Picasso, Hemingway, dan Dali. Suatu saat, dia berlibur ke Paris bersama tunangannya. Setengah mabuk, dia berjalan-jalan sendirian di tengah malam. Jam berdentang dua belas kali. Sebuah mobil klasik berhenti di hadapannya. Lelaki dalam balutan tuksedo keluar dari mobil tersebut, lalu mengajaknya ke pesta. Di sana, dia bertemu Scott dan Zelda Fitzgerald. Dia terlempar ke 1920. Hanya pada tengah malam.

Unsur magis selalu memikat saya. Bagi saya, ide perjalanan waktu tidak pernah usang. Dan, betapa asyiknya jika bisa seperti Gil yang bertemu penulis-penulis idolanya di tengah malam di Paris. Saya ingin bertemu Agatha Christie, sepertinya. Oh, dan, Tolkien. Tetapi, saya tidak keberatan kok datang ke pesta yang sama dengan yang didatangi Scott dan Zelda Fitzgerald. Jika ke Paris, saya pasti akan bersafari malam dan menunggu jam berdentang dua belas kali.

Jadi, itu saya dalam lima film. Adakah kalian di dalamnya? Atau, kalian ingin berbagi tentang film-film lain yang menurut kalian mewakili kita? Mari, mari, merapat. Ayo membahas kita dalam film.

Kiss,
W

PS: semua gambar di atas diambil dari IMDB.

Advertisements

7 thoughts on “Kita Dalam Film

  1. Aku suka banget Eternal Sunshine of Spotless Mind kak. Sedikit scifi sih, ada tentang penghapusan memorinya. Tapi surealis banget, dan karakter cowok-cewek introvert-ekstrovertnya yang tarik menarik bikin chemistrynya berasa banget. Boleh kak dicoba kapan2 buat nonton hihi

    Like

Leave your traces...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s