Cerita di Balik Kesalahan Ketik

typo

Beberapa hari lalu, di Twitter, saya dan beberapa teman sedikit membahas kesalahan ketik. Kami sering menemukan hal tersebut di buku-buku Indonesia. Pasti kalian juga.

Kesalahan ketik terkesan sepele. Saya pribadi menganggap satu-dua kesalahan ketik di sebuah buku merupakan sesuatu yang wajar. Manusiawi. Bahkan, Joko Pinurbo pernah berkata, barangkali seumur hidupnya, seorang penulis tidak akan mendapati bukunya tanpa kesalahan ketik.

Tetapi, kesalahan ketik yang muncul terlalu banyak dalam sebuah buku akan mengganggu keasyikan membaca. Beberapa orang tidak peduli. Sebaliknya, pembaca-pembaca cerewet seperti saya–yang memiliki kecenderungan OCD–akan langsung menutup buku tersebut dan tidak mau membukanya lagi.

Sebagai penulis, saya masih bermimpi menerbitkan buku tanpa kesalahan ketik–meskipun barangkali itu mustahil. Saya masih berusaha. Sekarang, sebagai penulis, saya ingin bercerita mengenai kesalahan ketik. Mengapa itu terjadi. Siapa yang menyebabkan itu terjadi. Dan, bagaimana seharusnya kesalahan ketik di sebuah buku bisa dikurangi.
Continue reading

Writing in Space and Time

IMG_20141010_091840

Seringnya, saat menulis–novel atau cerpen, kita tidak berpikir terlalu banyak mengenai waktu dan ruang. Dua hal tersebut kita jadikan elemen sekunder dalam cerita, sekadar latar belakang. Kita membiarkan keduanya bergerak mengikuti perkembangan konflik secara pasif.

Tetapi, sebenarnya, waktu dan ruang bisa lebih dari sekadar latar belakang. Waktu dan ruang bisa menggigit, bisa menjadi elemen penting yang memengaruhi elemen-elemen lain.

Barangkali, kalian sudah tahu. Atau, paling tidak, menemukan hal tersebut dalam sebuah buku. Tidak sedikit penulis yang menggunakan pergerakan waktu dan ruang untuk menciptakan struktur dan kesatuan cerita. Mereka fokus pada periode atau tempat tertentu. Ini memberi mereka keuntungan. Ketegangan hadir secara lebih dramatis.
Continue reading

[D.I.Y] This Will Be My Year – Journal of 2015

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/2ac/74672637/files/2014/12/img_1892.jpg
Menjelang akhir tahun, salah satu kegiatan saya adalah mencari agenda/jurnal untuk tahun berikutnya. Daripada jurnal yang bisa diisi ulang, saya memang lebih menyukai jurnal yang sudah diset setahun. Jadi, setiap tahun saya bisa memiliki jurnal baru^^. Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Alasan lain adalah, saya bisa membukanya kembali untuk mengenang kegiatan saya di tahun-tahun sebelumnya. Ya, saya menyimpan buku-buku jurnal itu. Kalau yang saya simpan tumpukan kertas, bisa dipastikan akan hilang entah ke mana.
Continue reading

[D.I.Y] Corner Bookmark

hasil

Waktunya berkreasi dengan kertas!

Saya selalu membutuhkan pembatas buku saat membaca. Entah kenapa, saya tidak pernah bisa mengingat halaman berapa saya berhenti membaca pada kali sebelumnya. Saya memang pelupa. Seringnya, buku-buku yang saya beli, terutama buku lokal, sudah menyediakan pembatas buku. Tetapi, tidak begitu dengan buku-buku luar, bukan? Dan, saya membaca buku luar sama banyaknya dengan buku lokal.

Untuk pembatas buku, pada awalnya, saya menggunakan apa saja: struk belanja, label pakaian, tisu. Terkadang, kalau ada waktu luang, saya membuat pembatas buku. Kebetulan, saya senang bermain-main dengan kertas dan pita. Nah, pernah juga saya membuat corner bookmark. Itu salah satu pembatas buku yang paling mudah dibuat. Tidak diperlukan banyak bahan dan hiasan.
Continue reading

Ideas, Where Art Thou?

mesin tik

Barangkali, pertanyaan yang paling sering ditemui oleh seorang penulis adalah ini: dapat ide dari mana? Dalam diskusi buku, wawancara, obrolan radio, dan bahkan resensi, pertanyaan itu selalu muncul. Tidak pernah tidak. Aneh sekali. Biasanya, si penanya menunggu jawaban sambil memandangi kami–penulis–dengan mata yang bersinar, yang menanti sesuatu.

Saya tahu apa yang diharapkan oleh si penanya, apa yang ingin dia dengar. Sesuatu yang menakjubkan, yang memperkuat kepercayaannya bahwa ide adalah hal yang istimewa, seperti cahaya terang yang turun dari langit.

Tetapi, sungguh, ide-ide yang saya dapatkan tidak turun dari langit.
Continue reading

[D.I.Y] Recycled Notepad

IMG_0788
Di atas meja saya di kantor, ada satu kotak berwarna hijau yang saya isi dengan tumpukan kertas bekas yang berstatus ‘dibuang sayang’. Saya kerap menggunakannya setiap kali ingin mencatat sesuatu dan tidak bisa menemukan agenda yang terkadang menyelip entah di mana. Tapi, kebiasaan buruk saya adalah setiap kali selesai mencatat di kertas bekas tersebut saya tumpuk begitu saja di atas meja atau saya selipkan di dalam buku yang ada di atas meja. Akibatnya saya harus mencari-cari kembali saat membutuhkan catatan itu.

Terinspirasi dengan adik saya yang hobi mendaur ulang kertas bekas di kantornya menjadi notes-notes mini yang bisa ia kantongi, saya membuat benda yang sama, namun dengan sentuhan yang lebih manis dan tidak berukuran mini karena akan saya letakkan di kantor. Saya yakin sudah banyak orang yang mendaur ulang kertas-kertas bekas menjadi notepad seperti ini, tapi tidak ada salahnya berbagi, bukan? 🙂
Continue reading

Conflict in Fiction

pict TLT4 560

Saat saya akan menulis novel, konflik adalah hal yang terpikir pertama. Yah, terkadang, karakter muncul terlebih dahulu. Sejujurnya, saya bukan tipe penulis yang senang menampilkan konflik besar dalam novel-novel saya. Sepertinya, saya lebih suka menceritakan konflik internal, sesuatu yang sebenarnya berasal dari kegelisahan saya.

Tetapi, marilah kita bahas beberapa tipe konflik yang bisa ditulis dalam novel. Sebelum memulai, saya ingin mengungkapkan hal ini. Ini pemikiran saya.

Penulis tidak mengarang konflik. Dia menganalisis, mengamati variabel-variabel, lalu merumuskan kesimpulan. Seperti pengamat. Intinya, konflik bukan sesuatu yang diada-adakan. Konflik muncul dengan sendirinya. Apa yang membuatnya muncul? Itu yang akan kita bahas.
Continue reading