Cerita di Balik Kesalahan Ketik

typo

Beberapa hari lalu, di Twitter, saya dan beberapa teman sedikit membahas kesalahan ketik. Kami sering menemukan hal tersebut di buku-buku Indonesia. Pasti kalian juga.

Kesalahan ketik terkesan sepele. Saya pribadi menganggap satu-dua kesalahan ketik di sebuah buku merupakan sesuatu yang wajar. Manusiawi. Bahkan, Joko Pinurbo pernah berkata, barangkali seumur hidupnya, seorang penulis tidak akan mendapati bukunya tanpa kesalahan ketik.

Tetapi, kesalahan ketik yang muncul terlalu banyak dalam sebuah buku akan mengganggu keasyikan membaca. Beberapa orang tidak peduli. Sebaliknya, pembaca-pembaca cerewet seperti saya–yang memiliki kecenderungan OCD–akan langsung menutup buku tersebut dan tidak mau membukanya lagi.

Sebagai penulis, saya masih bermimpi menerbitkan buku tanpa kesalahan ketik–meskipun barangkali itu mustahil. Saya masih berusaha. Sekarang, sebagai penulis, saya ingin bercerita mengenai kesalahan ketik. Mengapa itu terjadi. Siapa yang menyebabkan itu terjadi. Dan, bagaimana seharusnya kesalahan ketik di sebuah buku bisa dikurangi.
Continue reading

Writing in Space and Time

IMG_20141010_091840

Seringnya, saat menulis–novel atau cerpen, kita tidak berpikir terlalu banyak mengenai waktu dan ruang. Dua hal tersebut kita jadikan elemen sekunder dalam cerita, sekadar latar belakang. Kita membiarkan keduanya bergerak mengikuti perkembangan konflik secara pasif.

Tetapi, sebenarnya, waktu dan ruang bisa lebih dari sekadar latar belakang. Waktu dan ruang bisa menggigit, bisa menjadi elemen penting yang memengaruhi elemen-elemen lain.

Barangkali, kalian sudah tahu. Atau, paling tidak, menemukan hal tersebut dalam sebuah buku. Tidak sedikit penulis yang menggunakan pergerakan waktu dan ruang untuk menciptakan struktur dan kesatuan cerita. Mereka fokus pada periode atau tempat tertentu. Ini memberi mereka keuntungan. Ketegangan hadir secara lebih dramatis.
Continue reading

Ideas, Where Art Thou?

mesin tik

Barangkali, pertanyaan yang paling sering ditemui oleh seorang penulis adalah ini: dapat ide dari mana? Dalam diskusi buku, wawancara, obrolan radio, dan bahkan resensi, pertanyaan itu selalu muncul. Tidak pernah tidak. Aneh sekali. Biasanya, si penanya menunggu jawaban sambil memandangi kami–penulis–dengan mata yang bersinar, yang menanti sesuatu.

Saya tahu apa yang diharapkan oleh si penanya, apa yang ingin dia dengar. Sesuatu yang menakjubkan, yang memperkuat kepercayaannya bahwa ide adalah hal yang istimewa, seperti cahaya terang yang turun dari langit.

Tetapi, sungguh, ide-ide yang saya dapatkan tidak turun dari langit.
Continue reading

Conflict in Fiction

pict TLT4 560

Saat saya akan menulis novel, konflik adalah hal yang terpikir pertama. Yah, terkadang, karakter muncul terlebih dahulu. Sejujurnya, saya bukan tipe penulis yang senang menampilkan konflik besar dalam novel-novel saya. Sepertinya, saya lebih suka menceritakan konflik internal, sesuatu yang sebenarnya berasal dari kegelisahan saya.

Tetapi, marilah kita bahas beberapa tipe konflik yang bisa ditulis dalam novel. Sebelum memulai, saya ingin mengungkapkan hal ini. Ini pemikiran saya.

Penulis tidak mengarang konflik. Dia menganalisis, mengamati variabel-variabel, lalu merumuskan kesimpulan. Seperti pengamat. Intinya, konflik bukan sesuatu yang diada-adakan. Konflik muncul dengan sendirinya. Apa yang membuatnya muncul? Itu yang akan kita bahas.
Continue reading

I Yam What I Yam

 

IMG_20140923_083834_editPernah seorang penulis pemula bertanya kepada saya, “Buku seperti apa yang sedang laris saat ini? Apa trennya?”

Saya menjawab, “Novel bernuansa Korea, mungkin. Tapi, yang paling laris dari masa ke masa–menurut saya–adalah novel-novel semi biografi yang inspiratif seperti Laskar Pelangi dan Negeri Lima Menara. Itu trennya.” Saya juga bertanya balik, “Kenapa, memangnya?”

Penulis pemula itu mengaku, dia berniat menulis novel yang senada dengan novel-novel laris tersebut.
Continue reading